Di kesempatan sebelumnya, kita sudah membahas tentang apa itu heading pada artikel post dan hubungan antara Heading dan Teknik SEO. Tapi, artikel itu masih membahas dasar-dasar SEO untuk heading saja. Apa yang boleh (do) dan tidak boleh dilakukan (dont). Jika kamu mau optimasi Heading super profesional agar lebih mulus saat di-crawling oleh mesin pencari, maka kamu perlu memperhatikan beberapa kiat berikut.
Tidak Perlu ada Heading “Pembuka” dan “Penutup”
Ini yang paling membuat salah kaprah karena masih banyak artikel yang menggunakan Heading untuk menegaskan bahwa “ini adalah bagian Pembuka” dan “ini adalah bagian Penutup”. Sebetulnya opsional jika kamu memang terbiasa membuat pembagian seperti ini, tapi bukan suatu kewajiban dari sudut pandang SEO. Mengapa demikian? Ingat, SEO selalu terkait dengan kata kunci (keywords). Logiknya, tidak mungkin ada orang mengetik kata kunci “Pembuka” atau “Penutup” di mesin pencari. Kalau saya disuruh memilih, preferensi saya tetap pada kiat sebelumnya: Heading Berisi Kata Kunci karena aspek inilah yang diperlukan oleh mesin pencari dalam pandangan SEO.
Tapi kalau kamu mau demi kenyamanan pembaca, silahkan, tidak ada yang melarang, tapi memang bukan suatu kewajiban bagi SEO. Atau saran saya, gunakan kalimat yang memancing seperti “Mengapa harus…..?” sebagai bagian pembuka/pendahuluan, dan gunakan kalimat konklusif seperti “Kesimpulan kenapa…..?” yang mewakili bagian penutup. Menurut saya ini titik kompromi terbaik karena kamu bisa memberi navigasi pada pembaca tanpa memberi tahu secara langsung bahwa itu adalah bagian pembuka/penutup, namun tetap dapat kamu sisipkan kata kunci di dalamnya sehingga Heading pembuka dan penutupmu menjadi lebih SEO Friendly.
Heading 6 ini berbeda dengan Text!
Di beberapa theme, jika kamu perhatikan dengan seksama, bentuk dari Heading 6 dan Text itu terlihat serupa. Secara visual, tidak ada perbedaan signifikan meski kita lihat dengan mata jeli sekalipun. Tapi ketahuilah, fungsinya sangat jauh berbeda! Heading 6 meskipun fisiknya sama, namun ia tetaplah Heading yang fungsinya untuk memberi penekanan bahwa ia menjelaskan bagian spesifik tertentu dari suatu topik. Dia harus memiliki deskripsi lanjutan di bawahnya, dan itulah teks alias Text! Sedangkan Text sendiri adalah elemen untuk membangun paragraf, berisi penjelasan atau explanation lengkap dari suatu Heading.
Bahkan walaupun suatu artikel atau laman tampak tanpa Heading sekalipun, Text berfungsi sebagai penjabaran lebih lengkap dari judul artikel atau laman tersebut sebagai Heading 1 (H1). Secara kasat mata, kita tidak akan menemukan perbedaan antara Heading 6 (H6) dan Text. Tapi kalau kamu beralih ke mode coding yang memusingkan kita, akan tampak bahwa mesin pencari mengidentifikasi Heading 6 sebagai <h6>, sedangkan Text hanyalah <p>. Dua elemen coding bahasa pemrograman tersebut, percayalah kastanya bagai langit dan bumi. Meski secara langsung tidak kontras bentuk visualnya, Google tidak akan memperlakukan Text <p> seisitimewa Heading 6, dan tentu tidak akan menurunkan derajat Heading 6 <h6> seperti Text.
Gunakan Fitur Table of Contents (ToC)
Bayangkan fitur ini memiliki fungsi yang sama persis dengan daftar isi pada suatu buku, namun memiliki kegunaan ganda. Satu, kegunaan bagi pembaca tentu mempermudah mereka menavigasi apa yang perlu mereka cari atau mereka baca. Sering kali pada suatu artikel, kita hanya perlu langsung to the point ke bagian yang kita inginkan. Kita tidak perlu membaca pendahuluan atau basa-basi, atau bahkan sejarah. Kita ingin membaca langsung bagaimana (how), dan terkadang tidak peduli mengapa (why). Untuk inilah fitur ini ada. Bagaimana cara membuatnya akan kita uraikan dengan lengkap di panduan dan tutorial cara membuat Table of Contents di Artikel.
Dua, sama seperti fungsi bagi pembaca manusia, bot crawler mesin pencari juga menggunakan fungsi tersebut untuk mengindeks artikelmu dengan mulus. Ketika artikel rapi dan dilengkapi dengan manajemen Heading yang baik, tanpa kamu sadari itu adalah bekal penting untuk fitur ToC ini yang memudahkan memberi tahu mesin pencari “ini bagian membahas X” dan “ini bagian membahas Y”. Pada akhirnya, Google sangat mudah sekali mengindeks artikelmu berbasis pada kata kunci yang ada di Heading karena mewakili pembahasan artikel di bawahnya. Di sisi lain, kegunaan ketiga adalah untuk estetika, dimana dengan adanya ToC ini akan mempercantik lamanmu.
Perhatikan Heading pada Theme yang kamu gunakan
Heading itu ternyata tidak mutlak hanya ditemukan di artikel saja. Rupa-rupanya, heading banyak ditemukan berceceran di laman statis theme yang kamu gunakan. Hal inilah yang menjadi “jebakan betmen” yang wajib kamu waspadai. Di laman yang default sudah ada dan lahir dari sananya seperti homepage, about, contact, dan laman yang lazim “sudah ada lahir duluan” sebelum kamu sadari ada karena satu paket dibuat ketika melakukan instalasi suatu theme. Mereka juga tanpa kita tahu, sudah mengandung heading.
Celakanya, kita tidak tahu heading apa yang mereka gunakan jika kita tidak jeli. Apalagi jika developer theme tersebut tidak terlalu mempedulikan SEO (hanya estetika belaka). Akibatnya, ia dengan ceroboh membungkus judul-judul widget di bagian Sidebar (kolom samping) atau Footer (kolom bawah) menggunakan tag H2 atau H3 Misalnya, tulisan “Artikel Populer”, “Kategori”, atau “Hubungi Kami” di bagian bawah web dibungkus dengan sebagai Heading 2. Akibatnya, ketika Googlebot membaca artikelmu, robot tersebut akan melihat struktur heading-mu tercampur aduk dengan judul widget global tersebut. Pada akhirnya, H2 tidak hanya dibaca pada judul subbab, tapi juga judul widget yang tidak penting.
Beruntungnya bagi kamu yang menggunakan layanan Website Gratis Selamanya dari situse.org, kami memilihkan theme yang paling SEO Friendly dan ringan untuk kamu gunakan. Dengan theme ini, kamu tidak perlu khawatir karena developer mengembangkan theme ini sangat SEO Friendly sehingga tidak akan tercampur aduk antara kontenmu dan elemen teknis lain dalam theme, sehingga dijamin tidak akan membuat robot crawler bingung saat merayapi websitemu. Kamu bisa membaca selengkapnya terkait cara memilih tema website yang SEO Friendly di artikel ini.
Optimasi Kata Kunci pada Heading untuk Algoritma Passage Ranking
Di post sebelumnya, kita telah membahas terkait pentingnya menyisipkan kata kunci pada heading. Dengan cara seperti itu, google akan mendeteksi bahwa heading yang kita gunakan pun mewakili kata kunci yang sedang dicari oleh orang-orang. Bayangkan kamu memiliki nama keluarga yaitu Andi, begitu juga dengan adikmu dan kakak perempuanmu. Ketika orang mengetahui namamu, mereka bisa menebak bahwa sekarang mereka berada di rumah keluarga besar Andi. Perumpamaan serupa juga dapat dilakukan pada artikel. Ketika suatu heading membahas terkait sifat salah satu anak Andi, maka google mendeteksi bahwa artikel tersebut adalah artikel yang membahas terkait keluarga Andi.
Apa maksudnya? Algoritma Passage Ranking yang dikembangkan oleh Google di era pandemi merupakan algoritma ajaib. Karena hanya cukup dengan kata kunci yang terselip dalam suatu heading saja, heading tersebut dapat muncul menjadi referensi jawaban langsung ketika ada seseorang yang mencari kata kunci sangat spesifik. Misalnya seseorang mencari kata kunci “bagaimana sifat anak-anak andi?” di kotak pencarian, maka Google akan langsung merujuk pada artikel itu tepat spesifik di bagian heading yang membahas sifat anak andi, dan langsung mengutip satu paragraf inti untuk menjadi jawaban utama dan teratas di hasil pencarian. Oleh karena itu saya bilang manfaatkan Heading dengan sebijak mungkin. Optimasi kata kunci pada judul heading tanpa membuat heading itu pusing dibaca oleh manusia asli.
Halo para Blogger dan Webmaster