Struktur Heading yang SEO Friendly

Setelah di post sebelumnya kita telah menelanjangi apa itu Heading dalam artikel website, di kesempatan kali ini kita akan membahas dari sudut pandang yang berbeda. Kamu pasti sudah mendapatkan gambaran tentang apa itu SEO, yaitu upaya yang bisa kita lakukan agar website kita umumnya, atau artikel-artikel kita khususnya, mencapai titik pengakuan tertinggi oleh mesin pencari: muncul di halaman pertama (page one). Maka, jika kamu mau tulisanmu melesat dan direkomendasikan oleh mesin pencari di hasil pencarian teratas, mempelajari struktur Heading yang SEO Friendly pun sangat penting.

Hanya ada satu Heading 1 (H1) dalam setiap laman

Entah suatu website memiliki domain mandiri, subdomain atau berbentuk subdirectory sekalipun, jumlah H1 itu mutlak hanya ada 1. Biasanya, H1 ini menjelma menjadi nama utama suatu blog. Misalnya situse.org menggunakan nama Website Gratis Selamanya, maka nama tersebut selain menjadi identitas juga menjadi Heading 1 dari website utama dengan domain situse.org. Namun, subdomain atau subdirectory lain di bawahnya yang memiliki platform masing-masing (bisa wordpress atau aplikasi lain), dapat memiliki H1 mereka sendiri-sendiri. Jika kamu memiliki website di bawah situse.org, kamu bebas menentukan nama website sesuai kebutuhanmu, dan otomatis menjadi H1.

Kamu bisa menemukan setting ini pada awal kamu mendaftarkan website terutama dengan aplikasi WordPress. Atau jika ingin kamu ganti misalnya karena kamu merasa namanya tidak representatif, bisa kamu masuk ke dashboard websitemu, arahkan ke Settings > klik General > Site Title. Ingatlah bahwa site title atau judul website itu adalah H1 dari laman depan websitemu, yang sebaiknya jangan kamu ubah-ubah karena ia akan muncul di setiap sudut websitemu, dan menjadi bekal bagi mesin pencari untuk mengindeks. Mengapa jangan diubah-ubah? Karena Google akan kebingungan jika nama websitemu berubah-ubah terus. Bayangkan Google ingin membaca buku tapi judulnya berubah secara berkala, padahal isinya kurang lebih sama. Kalau kamu bingung, mesin pencari yang berwujud robot juga lebih bingung!

Lantas kalau memang sebaiknya jangan diubah, mengapa SEOrang harus repot-repot memberi tahumu? Pertama karena ia akan bertindak sebagai H1 abadi, maka tetapkan satu nama website yang akan terus kamu gunakan SELAMANYA. Yakinkan dirimu bahwa nama website yang kamu pilih ini akan terus kamu pelihara, tanpa berpikir di tengah jalan akan mengubah nama websitemu. Kedua, ini adalah peringatan keras: JANGAN MENAMBAH HEADING 1 (H1) LAIN DIMANAPUN DI WEBSITEMU! Ingat ini, hanya ada 1 Heading 1 (H1), tidak ada yang lain! Jangan terkecoh mengapa ada setting H1 di post kamu, karena itu seolah memberi 2 judul kepada 1 buku, membingungkan bagi mesin pencari. Pastikan heading baru yang kamu tambahkan hanya Heading 2 (H2) saja.

Mengapa demikian? Karena H1 ternyata bukan hanya ada pada site title, melainkan judul pada setiap artikel baik post maupun page. Sehingga jika kamu ingin menambah heading di artikelmu, WordPress otomatis mendapuknya menjadi H2. Karena sangat aneh jika dalam 1 laman, ada 2 Heading 1 sekaligus. Saat kamu melihat suatu artikel atau page, judul yang terpampang nyata di atas laman tersebutlah yang bertindak sebagai H1. Jika kamu tambah H1 lain di dalam artikel, maka akan menimbulkan kontradiksi. Lalu bagaimana solusinya? Sederhana: Anggap H1 tidak pernah ada. Ia akan menjelma secara otomatis setiap kamu membuat judul, layaknya roda mobil yang berfungsi sebagaimana mestinya tanpa harus kita sebutkan bahwa setir kemudi kita adalah roda meskipun bentuknya sama-sama bulat. Abaikan saja, selalu pastikan Heading di artikelmu dimulai dari H2.

Judul Wajib Diisi sebagai Heading 1 per artikel atau laman

Seperti yang sudah kita sempat singgung di post terkait kiat atau tips membuat judul yang menarik, judul artikel (post) atau laman (page) itu wajib diisi. Dia bertindak sebagai H1 dalam artikel atau laman tersebut. Tidak ada perdebatan lagi. Jangan sampai kamu asyik membuat isi artikel, tapi lupa mengisi kolom judul atau tidak sempat memikirkan judul yang menarik sehingga artikelmu terpublish menjadi “Untitled” atau “No Title”. Ingat bahwa judul itu tak ubahnya seperti Heading, berfungsi sebagai penjembatan yang merepresentasi tulisanmu. Sebagus apapun tulisanmu akan menjadi sampah internet yang tidak bisa diindeks oleh mesin pencari, dan efek dominonya tidak sampai pada jangkauan pembaca.

Mari kita ibaratkan robot crawler milik mesin pencari itu seperti laba-laba yang sedang merayap di website kita. Website kita ibarat jaring-jaring, H1 nya harus kokoh dulu. Jika Heading 1 nya kosong, Untitled atau No Title, maka akan membuat mesin pencari terpleset kebingungan: ini website membahas apa, kok tiba-tiba masuk pada substansi tanpa disambut judul terlebih dahulu? Jika judul telah terisi, Heading 1 (H1) mu kokoh, siap dirayapi mesin pencari yang lalu mencari Heading 2 (H2) sebagai pijakan selanjutnya dan seterusnya hingga sampai pada informasi atau materi yang ingin kamu sampaikan melalui artikelmu.

Heading Sebisa Mungkin Mengandung Kata Kunci (Keywords)

Saya bukan bermaksud mengajak anda untuk spamming kata kunci, bukan! Sebagai orang yang tidak cocok dengan penggunaan Heading, baiknya kita bijak mengembalikan fungsi heading sendiri: menjadi kata-kata yang mewakili apa yang dideskripsikan di bawahnya. Kita harus jujur bahwa dalam membuat Heading, se-terpaksa apapun kita, harus tetap bijak menulis secara natural dan organik, jangan dibuat-buat. Ketahuilah bahwa teknik spamming kata kunci melalui Heading itu praktik Gray Hat SEO yang tidak bijak dan sekarang justru dihindari oleh algoritma Google. Mengapa demikian? Karena tidak ramah bagi pembaca. Pembaca tidak akan merasakan tulisan tersebut dibuat secara natural, melainkan dipaksakan mengandung banyak kata kunci tertentu sehingga tidak nyaman dibaca.

Jangan menganggap mesin pencari itu tidak canggih, jangan sekali-sekali! Ketahuilah, perkembangan zaman membuat mereka selalu update memperbaharui kemampuan crawling mereka. Mereka tidak lagi merekomendasikan suatu tulisan dari seberapa banyak kata kunci yang diletakkan sehingga terkesan tidak enak dibaca oleh manusia. Karena dengan adanya efek tidak disenangi manusia memberi efek domino yaitu Bounce Rate yang tinggi, dimana seorang yang merasa tidak nyaman dengan tulisan itu tidak akan berlama-lama membaca artikel. Mungkin hanya sebentar, skimming, entah karena informasinya tidak cocok (click bait) atau bahasanya terlalu “aneh” karena mengulang kata kunci, ia akan dengan cepat meninggalkan suatu website. Perilaku ini kemudian dibaca negatif oleh mesin pencari.

Jangan Lompat-Lompat Heading!

Ini adalah peringatan keras, jangan melakukan lompat level Heading (Level Heading Skipping). Jika kamu ingin menambah Heading baik untuk memberi penekanan (highlight) maupun memberi rambu istirahat sejenak bagi pembaca, kamu bisa menggunakan Heading 2 (H2) yang secara default didapuk oleh WordPress saat kamu menambah Heading. Jangan sampai hanya karena kamu risih dengan tebalnya atau besarnya ukuran font Heading 2 (H2) tersebut, menyebabkan kamu langsung loncat ke Heading 3 (H3) atau bahkan Heading 4 (H4) tanpa ada Heading di urutan sebelumnya. Hal ini memberikan sinyal buruk ke mesin pencari bahwa kamu adalah penulis yang tidak paham fungsi Heading!

Ibaratkan gigi kendaraan pada transmisi manual, H1 dipakai pada saat awal jalan (sebagai judul, baik judul website atau judul artikel/laman). Biarkan saja dan abaikan gigi 1 ini. Jika kamu ingin menambah Heading, kamu harus ke gigi 2 alias Heading 2 dulu, bukan? Tidak mungkin pada transmisi kendaraan, kamu berpindah cepat dari gigi 1 ke gigi 4 begitu saja. Pengibaratan ini juga berlaku pada Heading, dimana ia harus diterapkan secara berurutan ibarat perpindahan percepatan pada transmisi kendaraan. Dengan begitu, artikelmu menjadi lebih smooth dan mulus diindeks oleh mesin pencari. Jadi bagaimana amannya? Abaikan H1, pastikan kamu selalu menggunakan H2, kecuali kamu memerlukan H3, H4, H5 dan H6 dan selalu pastikan disisipkan secara berurutan, bukan lompat-lompat.

Heading Bukan Pointers, Bullets and Numbering! Tidak Perlu Diawali dengan Angka ataupun Huruf

Heading fungsinya adalah untuk menjadi penunjuk arah atau navigasi suatu sub topik tertentu. Artinya, harus selalu ada deskripsi, penjelasan atau explanation di bawahnya. Heading tidak difungsikan sebagai penjabaran poin-poin. Misalnya pada contoh di bawah ini, dimana tidak ada deskripsi apapun di bawahnya. Jika kamu ingin menggunakan Heading, wajib ada deskripsi lanjutan di bawahnya!

Paham ya maksudnya? Kalau kamu memaksakan struktur Heading seperti gambar di atas, mesin pencari akan mengira halamanmu punya banyak bab kosong tanpa isi, karena semua berfungsi sebagai Heading, dan tidak ada isi Text sama sekali yang mendeskripsikan Heading-Heading tersebut. Jadi dalam kasus seperti ini, gunakan fitur ‘List’ bawaan WordPress untuk rincian seperti ini, bukan dengan menggunakan Heading! Sehingga karena fungsinya bukan sebagai pointers, Heading tidak wajib untuk diawali dengan numbering seperti 1. 2. 3. atau a. b. c., yang penting ingat kiat ketika kita membuat judul dan terdapat angka seperti “11 kiat” atau “9 tempat”, Heading kita harus persis jumlahnya dengan klaim judul tersebut.

Akan ada beberapa pembahasan menarik lagi terkait Heading yang bisa kamu simak di artikel Optimasi SEO maksimal untuk Heading di post ini.

Halo Para Penulis Blog dan Webmaster

Suka dengan Bahasan SEO?

Leave a Comment