Di post mengenai kiat membuat judul sebelumnya, kita sekarang mengetahui bahwa di dalam artikel kita pun akan mengenal bagian-bagian “yang lebih baik” dipisahkan supaya tidak membingungkan pembaca. Hal ini bisa kita ibaratkan sebagai buku yang dalam daftar pustakanya berisi bagian-bagian terpisah dengan topik masing-masing, namun masih dalam 1 tema yang sama. Atau jika kamu pernah melihat struktur karya ilmiah yang biasanya terbagi menjadi pendahuluan, pembahasan dan penutup. Dalam artikel di website juga tak kalah pentingnya membuat bagian-bagian seperti itu.
Jika ditanya insight menurut saya, pembagian – atau yang nanti akan kita sebut Headings – sebetulnya kurang penting jika gaya penulisan kita lebih cocok dengan model Storytelling. Pembagian tersebut memang lebih cocok jika di tengah artikel harus ada keterpisahan topik, mirip seperti kajian pustaka dalam suatu makalah. Misalnya kita membahas topik umum contohnya terkait Dunia Wisata di Indonesia. Kita akan memecahnya menjadi beberapa bagian (headings), seperti Jenis Wisata, Rute, Akomodasi Pendukung, Fasilitas, dan Biaya. Tapi kalau kita membahas terkait hobi tertentu misalnya kucing peliharaan kita, tentu pembagian dengan headings ini sebetulnya kurang cocok. Masak kita mau membahas dunia seputar kebiasaannya dalam masing-masing bagian?
Apalagi jika kita adalah storyteller yang alih-alih suka memisah-misahkan, kita justru cenderung mencari cara bagaimana supaya kata per kata, kalimat per kalimat dan antar paragraf saling menyambung satu sama lain untuk menciptakan alur yang epik dan membuat pembaca betah menikmati tulisan kita. Oleh karena itu harus saya akui, sayapun tidak terlalu cocok dengan model headings seperti ini karena daripada membuat tulisan mengalir begitu saja, kita seperti dipaksa membuat pemisah-pemisah dalam satu bagian yang sebetulnya saling berkesinambungan. Tapi sejujurnya bagi saya, menggunakan Heading itu adalah sunnah, bukan kewajiban. Hati! Ada perbedaan antara Heading dan Pointers dalam Listicle!
Bagaimana Kisah, Sejarah dan Fungsi di Balik Heading?
Meski tidak terlalu cocok dengan model Heading ini, namun harus saya akui bahwa sejarahnya justru tidak jauh dari kebiasaan saya menulis ilmiah. Heading itu layaknya bab dalam buku yang kemudian di-online-kan dalam bentuk artikel di website. Jadi, fungsi awalnya tidak jauh berbeda dengan bab pembatas yang membatasi satu bagian dengan bagian yang lain dalam tulisan cetak. Dulu sebelum teknologi bahasa pemrograman bertransformasi jauh lebih canggih seperti sekarang, webmaster dan copywriter memanfaatkan Heading ini untuk membantu pembaca menavigasi tulisan. Supaya mereka para audiens bisa memahami “sampai mana mereka sekarang?” terutama pada saat ada distraksi atau lelah dalam membaca.
Heading ini memiliki bentuk yang mudah dikenali. Walaupun sama-sama tulisan, tapi memiliki ukuran tulisan dan ketebalan yang berbeda-beda sebagai penanda. Semakin ke bawah, fungsinya semakin spesifik untuk menjabarkan topik yang lebih umum. Meskipun Heading 6 dan Text biasa dalam contoh di bawah ini terlihat sama, namun sebetulnya memiliki fungsi yang berbeda di mata mesin pencari. Kamu bisa melihat perbedaan antar Heading dengan contoh berikut:

Heading pada website, memiliki 6 tingkatan atau level. Heading yang dipopulerkan oleh Tim Berners-Lee pada HTML nya di tahun 1990 ini sebetulnya meniru model standar percetakan buku. Fungsinya kira-kira seperti ini: Heading 1 (H1) berfungsi sebagai judul utama, yang dalam hal ini identik dengan nama website yang kamu gunakan. Heading 2 (H2) biasanya untuk kata kunci penting di halaman utama atau menjadi judul post/page (dulunya digunakan untuk judul Bab).
Heading 3 (H3) memiliki fungsi yang sama persis dengan fungsi awalnya di buku cetak, yaitu untuk sub-bab. Lalu Heading 4 (H4) juga tidak jauh berbeda dari fungsi awalnya di buku cetak yaitu untuk mendeskripsikan bagian yang lebih kecil dari sub-bab, alias semacam anak sub-bab. Jika lebih khusus lagi, bisa menggunakan Heading 5 (H5). Terakhir untuk poin-poin yang lebih kecil, dapat digunakan Heading 6 (H6). Dengan catatan, setiap bagian tersebut ada deskripsi yang eksplanatif di bawahnya, bukan sekadar poin-poin.
Lalu, pertanyaan kritis muncul, mengapa hanya sampai H6? Apakah ada H7, H8, H9 dan seterusnya? Sayangnya, jawabannya adalah tidak ada. Alasannya adalah pertama, keterbatasan jangka pendek memori otak manusia. Manusia memiliki kemampuan kognitif yang memiliki limitasi dalam hal mengingat hierarki, dan hukumnya mengunci hanya pada H6 saja. Setelah itu, manusia akan sangat kesulitan mengingat, apalagi jika kita mengetahui fakta bahwa H6 adalah anak cucu dari H3 suatu artikel (H2). Bayangkan jika ada banyak H3 dalam artikel tersebut, dan masing-masing memiliki anak cucu hingga H6. Apakah kita mudah mengingatnya kita memahami sampai mana? Biasanya, suatu artikel sudah mentok sampai H4, dan sangat jarang bahkan langka sampai pada tingkatan H5 apalagi H6.
Alasan kedua berkaca pada alasan pertama tersebut, industri percetakan yang sudah ada sebelum website memang mengadopsi sampai H6 saja, hampir tidak ada percabangan yang lebih dari 6 tingkatan karena keterbatasan batas psikologi maksimal manusia dalam memetakan hierarki. Setelah itu? Dijamin jika ada H7 dan seterusnya, tulisan itu tidak lagi informatif, namun berubah menjadi tulisan yang lebih mengerikan dari cerita horror, sulit sekali memetakan informasi di dalamnya. Alasan ketiga adalah alasan terakhir yang pragmatis. Ketika arsitektur internet awal sudah mengadopsi prinsip tersebut (maksimal sampai H6), maka kode pembangun sistem browser yang dikembangkan setelahnya pun mengikuti konsistensi tersebut. Dari segi visual, User Experience (UX) dari pengguna bisa rusak jika dipaksa lebih dari 6 heading.
Heading Sebagai Titik Kompromi (Saya, Kamu dan Google Senang: Semua Menang!)
Heading memang bukan untuk semua orang. Tapi sebaliknya, maknanya adalah ada orang-orang tertentu yang sangat memerlukan Heading ketika melahap suatu konten informasi. Tidak bisa dipungkiri, sebagian pengguna suka jika ia dapat memetakan konten yang kita buat, tanpa pusing dengan pertanyaan “Tadi kita bahas apa ya?” saat sudah scrolling lebih dari 10 menit. Maka sebagai penulis yang baik, mau tidak mau, suka tidak suka (seperti saya) juga harus menulis menggunakan Heading seperti yang saya contohkan sampai anda membaca pada titik ini.
Kita dapat memanfaatkan Heading untuk berbagai hal, supaya dapat berkompromi dengan jati diri kita sebagai penulis juga. Heading dapat menjadi sarana pemantik, misalnya di bagian sebelumnya saya sempat membahas historiografi Heading dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan pemantik, yang menarik perhatian pembaca sekaligus memberi rambu bagi penulis “kita sampai titik ini, lho.”. Mungkin dengan heading yang interaktif seperti itu, juga dapat menjaga ritme tulisan kita agar lebih bernyawa dan tidak monoton karena penekanannya melalui Heading. Atau bagi beberapa pembaca, bisa jadi heading kita mereka manfaatkan rehat sejenak karena membaca di layar itu tentu lebih melelahkan dibandingkan tulisan cetak.
Selain kita harus berkompromi dengan orang yang suka memetakan informasi melalui Heading, Heading juga merupakan titik kompromi kita kepada robot crawler mesin pencari. Satu yang luput yang tidak saya bahas di bagian sejarah, bahwa pada saat mesin pencari ditemukan, akan sangat sulit mengindeks miliaran tulisan begitu saja. Mesin pencari kemudian mengambil jalan pragmatis, mengambil jalan ikut memetakan informasi melalui Heading yang dianggap mewakili poin-poin yang dideskripsikan di bawahnya. Seiring berjalannya dinamika SEO, Heading juga pada akhirnya turut menjadi salah satu teknik untuk mengundang mesin pencari melalui kata kunci yang terselip dalam Heading. Kalau kamu tertarik sekali membahas mengenai Heading dari sudut pandang SEO, sudah kubahas di post yang ada pada kategori berbeda yaitu Buku Saku SEO untuk Blogger (BSSB), tepatnya pada post optimasi SEO untuk heading berikut.
Heading Artikel sebagai Sarana Aksesibilitas yang Inklusif
Mungkin tidak terlalu berpengaruh pada SEO, namun Google sangat suka sekali jika para penulis memanfaatkan fitur Heading ini dengan maksimal dan bijak. Karena secara tidak langsung meskipun bukan niat kita, namun pembagian section melalui Heading ini akan membantu aksesibilitas bagi kaum difabel. Heading membuat suatu website ramah dan terkesan memiliki empati sosial yang tinggi dan berbobot. Apalagi, tunanetra khususnya menggunakan fitur Screen Reader pada gadget mereka. Fitur ini memanfaatkan struktur Heading secara berurutan, sehingga pastikan kamu tidak melompat-lompat saat memanfaatkan fitur Heading.
Sehingga Heading ada supaya mesin pencari bisa menemukan artikel kita melalui kata kunci pada Heading, pembaca juga senang karena mereka dapat memetakan informasi di artikel kita dengan mudah, dan pada akhirnya kompromi itu akhirnya membuat kita menang karena artikel kita dibaca oleh pencari informasi dan diindeks oleh mesin pencari, plus menjadi media untuk memberi highlight atau penekanan serta rambu rehat bagi pembaca. Apalagi, heading ini sangat ramah sekali untuk teman kita yang tunanetra karena menjadi pondasi untuk fitur Screen Reader pada gadget mereka. Sehingga dengan kata lain: Semua Menang, Semua Senang! Tapi tentu saja selalu ingat nasehat saya di awal tadi: penggunaan Heading itu sunnah, bukan wajib. Jangan anggap anjuran Heading itu sebagai kewajiban yang menghalangimu menulis karena seperti saya, HEADING ITU MEMBUAT MALAS!
Halo para Blogger Newbie