Apa Saja Isi dari Artikel Post?

Halo, blogger! Setelah di post sebelumnya kita membahas tentang cara membuat judul artikel yang menarik, hari ini kita akan mengupas tuntas apa saja isi dari suatu artikel post. Sebelum lebih jauh, bagi kamu yang masih awam, kamu harus tahu dulu apa perbedaan antara post dan page. Karena di kesempatan ini kita akan fokus pada isi post artikel, bukan page (laman), kamu harus tahu terlebih dahulu apa itu post dan bedanya dengan laman. Karena kedua fitur ini yaitu post dan page memiliki definisi dan fungsi yang berbeda jauh. Orang awam seperti kita perlu mengidentifikasi terlebih dahulu apa yang ingin kita buat harus relevan dengan fitur yang digunakan, walau keduanya sama-sama berbasis tulisan (Text-based), bukan gambar, video atau sarana multimedia lainnya.

Meskipun berbasis tulisan karena begitulah cara kerja algoritma mesin pencari, tapi isi dari artikel post tidak melulu hanya tulisan. Kamu pasti jenuh dan bosan jika hanya berhadapan dengan tembok tulisan yang tinggi begitu saja tanpa ada elemen lain. Itulah mengapa jangankan website, buku saja perlu melakukan “optimasi” terhadap mata pembacanya melalui media seperti gambar, diagram atau tabel agar supaya pembaca tidak jengah. Kecuali jika keperluannya untuk akademik, platform jurnal ilmiah akan menekankan banyak pada tulisan yang njelimet, menggunakan padanan bahasa yang berat, serta kata-kata ilmiah yang bersifat kaku. Oleh karena itu yuk terus baca sampai habis untuk tahu apa saja isi dari suatu artikel post.

Heading/Judul

Selain judul artikel utama, agar pembaca tidak kesulitan memetakan artikel yang kamu buat, kamu dapat menambahkan heading atau subjudul dalam artikelmu. Selain menjadi penanda, heading juga dapat difungsikan sebagai checkpoint agar pembacamu tidak kehilangan konteks. Karena dengan heading ini, pembaca tidak tersesat “Sampai mana ia sekarang? Ada dimana posisinya?”. Heading membantu mereka mengetahui di titik mana mereka berhenti sementara. Heading juga sangat berguna jika pembaca kita mudah bosan atau lelah saat membaca tulisan, terutama bagi mereka yang telah berumur atau orang zaman dulu yang lebih terbiasa membaca di media cetak. Heading berguna sebagai titik istirahat sejenak untuk mereka melakukan aktivitas lain, sebelum melanjutkan membaca kemudian.

Kalau kamu sangat tertarik mempelajari teknik heading, situse.org telah membahas di laman tersendiri. Kamu bisa mengenal seluk beluk Heading di post ini, mengetahui struktur atau kiat membuat Heading yang SEO Friendly disini, ataupun melakukan optimasi SEO maksimal untuk heading di laman berikut. Tapi ingat! Menurut saya, sifat dari penggunaan Heading ini sunnah, alias jika dikerjakan bagus sekali, tapi jika tidak diterapkan pun tidak mengapa. Maksudnya jika kamu memang benar-benar ingin menggunakan Heading, pastikan kamu mempelajari seluk beluk Heading ini secara all in, jangan setengah-setengah. Jika kamu tidak terlalu tertarik, daripada terpaksa dan malah membuat Heading secara ngawur yang berujung optimasinya buruk dan fungsinya tidak maksimal, lebih baik kamu tidak menggunakannya saja, fokus menulis.

Substansi Materi

Kontras dengan heading atau judul, isi substansi materi ini menggunakan model <Text>, bukan heading seperti <H1>, <H2>, <H3> dan seterusnya. Mengapa ada perbedaan itu? Supaya memudahkan mesin pencari menavitasi tulisanmu, karena porsi optimasi kata kunci pada heading lebih signifikan dampaknya dibandingkan teks jika kamu benar-benar memanfaatkan Heading semaksimal mungkin. Jika Heading-mu tidak optimal? Mesin pencari akan lebih fokus ke isi utama dari postmu yang berupa teks itu. Tentunya bagian ini berisi uraian dari tema atau topik yang kamu angkat. Dan dalam menulis teks kamu dianjurkan menggunakan teknik menulis supaya memberi konteks, mulai dari pendahuluan/pembuka untuk basa-basi, substansi atau poin-poin utama, hingga penutup untuk menyimpulkan, agar pembaca mengalir saat membaca tulisanmu.

Kamu mau menyisipkan guyonan? Sarkas satir untuk pemerintah? Nasihat atau quotes? Boleh! Tidak masalah sama sekali dan bahkan tidak hanya disukai oleh pembaca, tapi juga mesin pencari karena mengindikasikan tulisanmu dibuat secara organik, ada campur tangan manusia beneran di balik website, memiliki jiwa dan ada chemistry yang kuat bahwa bukan robot monoton tanpa nyawa yang membuat tulisan itu. Ketahuilah, bukan hanya kita, robot crawler pun jengah dengan tulisan tanpa tone ala robot AI Generated atau hasil copas dari artikel lain yang membuat pembaca de ja vu “sepertinya aku sudah membaca ini sebelumnya di website lain?”. Untuk penjabaran selengkapnya terkait substansi, kamu bisa simak di tulisan mengenai kiat membuat post pertama ini, serta berapa minimal kata dalam artikel website dengan klik disini.

Quotes/Kutipan

Kamu punya nasihat yang ingin kamu kutip, atau bikin Quotes of the Day? Kamu bisa manfaatkan elemen quotes ini dengan bijak, agar kamu terlihat bijak hehehe. Apa itu kutipan? Kamu bisa baca di post terkait Quotes di post ini (ah elah, cuma quotes doang ada post pembahasannya ndiri?!)

Listicle/List Poin-Poin

Di Niche atau topik tertentu, tak menutup kemungkinan pola kontennya lebih cocok jika menggunakan list poin-poin, atau yang kita sebut dengan listicle. Biasanya, daftar poin-poin ini digunakan untuk artikel seperti tutorial, kriteria, parameter, atau sekadar jenis atau kategori. Daripada kamu membuat konten dengan model paragraf panjang tak berujung yang membosankan untuk menjabarkan tahap-tahapan, baiknya listicle ini dipakai dalam situasi tersebut. Kamu bisa mengetahui lebih detail tentang apa itu Listicle, cara membuatnya dan mengoptimasinya di artikel ini. Tapi ingat! Jangan sampai kamu kesulitan membedakan kapan harus menggunakan Heading, dan kapan menggunakan Listicle, karena keduanya memiliki fungsi yang kontras, berbeda satu sama lain! Kamu bisa menyimak perbedaan heading dan listicle di post ini.

Tabel

Sangat cocok untuk kamu gunakan jika dalam artikelmu ada perbandingan. Dibandingkan menjelaskan melalui kalimat panjang, penggunaan tabel sangat memudahkan pembacamu untuk menggambarkan apa saja perbedaannya. Bisa digunakan untuk membandingkan fitur, karakteristik, atau bahkan harga sekalipun, multifungsi! Bisa kamu gunakan untuk apapun, bahkan bisa kamu optimasi tabel sekalian yang bisa kamu simak di post ini!

Rumus Matematika

Sebagian besar dari kita tentu sangat membenci yang namanya matematika. Karena matematika itu mudah jika hanya berbentuk angka saja, sebelum huruf dan karakter aneh-aneh join the club yang membuat matematika menjadi tidak asyik lagi! Tapi tentu kita tidak bisa menyangkal sebagian besar teknologi dan infrastruktur internet dibangun dari logika matematika. Jadi kalau kamu yang math-freak, benar-benar mencintai hitung-hitungan memusingkan yang menantang bagi kamu, WordPress sangat ramah dengan memberikan fitur insert rumus matematika ini, yang memungkinkan kamu memasukkan rumus matematika agar mempermudah pembaca menyelesaikan tugas atau pe’er-nya.

Yang satu ini tidak perlu ada post khusus seperti elemen-elemen post lain, karena toh saya tidak yakin rumus matematika dapat dioptimasi. Kalau kamu menggunakan Gutenberg, kamu tinggal klik tombol tambah (+) di pojok kiri atas dekat logo websitemu, lalu pilih “Math” dengan logo akar atau apalah itu namanya (saya tidak tahu karena akarnya tidak ramah bagi pikiran saya yang seharusnya akar itu ya akar pohon, bukan akar masalah!). Atau cara mudahnya adalah saat kamu enter untuk membuat blok baru, saat kamu arahkan dan klik blok itu, akan muncul tanda tambah (+). Kamu tinggal klik, lalu ketikkan “Math” pada kolom pencarian (search bar), klik dan voila! Selamat ber-matematika yang mematikan!

Kalender Event

Tidak perlu dijelaskan lagi… Kamu sudah capek dengan penjelasan bertele-tele, kan?

Gambar/Image

Supaya pembaca tidak jenuh saat menyimak postmu, tentu saja sesekali kamu dapat menyelipkan gambar di tengah-tengah artikelmu. Bagi kamu yang punya produk atau jualan barang tertentu, kamu bisa menjadikan gambar sebagai media untuk memperkenalkan produk itu. Apalagi jika usahamu berbentuk layanan, fitur-fitur dalam jasamu sangat boleh sekali ditampilkan, bahkan untuk ruang tunggu yang nyaman sekalipun. Kalau kamu membuat tutorial tertentu, alih-alih hanya berbentuk list poin-poin yang membosankan, kamu bisa menyisipkan gambar untuk mempermudah pengguna menavigasi step by step yang sedang mereka lakukan. Tapi ingat, peletakan gambar pun tidak boleh sembarangan dan gambar pun tak kalah pentingnya untuk dilakukan optimasi.

Multimedia

Selain gambar, kamu juga bisa menambahkan jenis multimedia lain seperti Galeri, Audio, Cover Buku/Majalah, Video dan Ikon. Tapi ingat! Menaruh media-media ini bukan untuk gaya-gayaan agar websitemu terlihat seperti pasar malam yang meriah. Selalu camkan bahwa fungsinya adalah sebagai alat bantu penjelas dari apa yang sedang kamu bagikan. Jangan lupa karena berbentuk multimedia yang cenderung “kelas berat”, berkasnya bisa sangat besar hingga menyedot jumlah storage hosting kamu yang terbatas. Gunakan secara bijak! Karena toh, kecil kemungkinan media-media seperti ini muncul di hasil pencarian Google secara mandiri meski sudah kamu optimasi, tidak seperti Gambar. Alternatifnya? Kamu bisa gunakan elemen embed tautan ke platform besar seperti YouTube (untuk video), Spotify dan SoundCloud (untuk audio/suara/rekaman/lagu).

Embed Tautan (Hyperlink) ke TikTok, YouTube, Spotify, SoundCloud dll

Nah ini yang sempat kita bahas di poin sebelumnya terkait multimedia. Daripada kamu upload multimedia yang berat ukurannya dan langsung mengikis penyimpanan hosting kamu yang terbatas, kamu bisa memanfaatkan fitur ini untuk menyematkan (embed) multimedia dari platform khusus (dedicated platform) seperti YouTube, TikTok dan Dailymotion untuk media berbasis video, Spotify serta SoundCloud untuk media berbasis audio, lagu, atau rekaman suara. Biasanya, mereka memberikan kapasitas gratis untuk kamu mengunggah (upload) berkas file mediamu di platform mereka.

Nah, kamu lebih bijak memanfaatkan fitur ini daripada unggah berkas di hostingmu sendiri. Selain video dan audio, kamu juga bisa menautkan tweet tertentu di platform sosial media X, post di forum Reddit, gambar di Pinterest, Tumblr atau Flickr, pamer suara di ReverbNation, proyek urun dana di Kickstarter, atau file dari Animoto atau Cloudup, bahkan hasil karya ilmiahmu yang telah diunggah sebelumnya di Scribd atau Isuu. Cara melakukan embedding gimana bang? Ah masak harus dijelasin, sama kayak rumus matematika! Kamu klik tombol tambah (+) di pojok kiri atas, lalu scroll ke bawah sampai menemukan kumpulan menu “Embeds”.

Survey, Poll dan Quiz serta Form Call to Action (CTA)

Katakanlah kamu merasa postmu mulai ramai pengunjung, traffic lalu lintas pembaca pecah dan meledak (ingat, kalau viral!!! kalau sepi mah nelongso wkwk), kamu sangat mungkin berinteraksi dengan mereka menggunakan fitur Survey, Poll dan Quiz yang bisa kamu tambahkan di tombol (+), lalu gulir ke bagian Embed, disitu kamu akan menemukan Form, Poll dan Quiz. Untuk Form, kamu juga bisa memanfaatkannya untuk usahamu jika ingin lebih lanjut menggunakan produkmu. Bisa kamu arahkan dengan menambahkan button di cara yang sama di fitur tambah blok (+) yang hmm, sangat ajaib memang fitur ini semua ada! Disitu, kamu bisa mengarahkan mereka untuk mengumpulkan data melalui email, mengarahkan ke marketplace atau sekadar menghubungimu melalui WhatsApp misalnya, yang cara membuat link WhatsApp bisa kamu ikuti di laman ini.

Halo para Blogger Newbie

Mau belajar banyak seputar membangun website dari N-0-L untuk pemula?

Leave a Comment