Perbedaan Post dan Page

Barangkali ada dari kita yang bingung ketika masuk CMS seperti WordPress misalnya. Kita akan menemukan dua fitur yang kelihatannya sama, yaitu Post dan Page. Beda sekali dengan platform lain seperti sosial media misalnya, yang hanya mengenal post saja. Meskipun terlihat serupa, dua fitur ini sebetulnya memiliki fungsi yang berbeda. Intinya, Post untuk artikel substansi, Page untuk laman. Kita awam akan perbedaannya karena sebagai orang awam dan pembaca website, kita melihat keduanya sama saja dan identik. Tidak ada perbedaan mencolok jika kita melihat kasat mata suatu halaman dan tidak bisa langsung mengidentifikasi begitu saja apakah halaman itu merupakan Post atau Page.

Keduanya terlihat mirip. Karena baik Post maupun Page adalah fitur berbasis tulisan (Text-based), terutama karena website identik dengan tulisan. Melalui tulisan itulah, robot crawler mesin pencari akan memanen substansi dari artikel untuk disuguhkan ke pembaca. Mesin pengindeks tidak bisa melihat tulisan atau menonton video, apalagi membedakan apakah suatu halaman itu merupakan Post atau Page. Mereka sama awamnya dengan kita. Jika kita asal-asalan menggunakan dua fitur itu tanpa strategi, mesin akan melihatnya seperti sesuatu yang sama.

Padahal jika kita optimize, keduanya akan menjadi kombinasi yang powerful. Fiturnya boleh beda, namun mereka adalah satu kesatuan yang saling mempengaruhi, terikat satu sama lain dan berkesinambungan. Satu akan menyokong yang lain, dan yang lain tidak akan terasa “hidup” jika tidak disokong oleh satunya. Lalu supaya mudah mengidentifikasinya bagi kita penulis (bukan pembaca), berikut adalah konsep dasar Post dan Page.

Post: Mirip Status atau Tweets pada Sosial Media

Untuk memahami bagaimana Post bekerja, kamu harus membayangkan kalau ia mirip seperti Status Facebook atau Tweets di X/Thread. Kalau kamu pengguna aktif yang sering update, kamu pasti langsung “Klik” apa maksudnya. Yaps, dia adalah fitur update berkala dari website kamu. Dengan kata lain, Post itu dinamis, isinya menyesuaikan perkembangan. Perkembangan apa? Terserah. Bisa perkembangan tren, fitur, pembaharuan, berita terkini, regulasi, atau bahkan sekadar mood dan inspirasi kamu. Urutan tampilnya dibentuk berdasarkan garis waktu (Timeline). Dari yang paling lama sampai yang paling baru, termasuk jika dibuat dalam waktu yang sama sekalipun (pasti ada jeda sepersekian detik meski kamu “Post” bersamaan.

Khusus untuk Post, cara mudah mengidentifikasinya apakah terdapat kategori dan tag yang menempel padanya. Kategori itu dibuat berdasarkan apa? Bebas, kamu bisa menguliknya disini. Begitu juga dengan tag. Karena update berkala, Post muncul dalam RSS Feeds (fitur untuk mengupdate/melakukan pengkinian), baik kepada pembaca maupun bagi Google. Contoh paling mudah untuk menggambarkan Post ini adalah berita. Bisa juga untuk membagikan banyak tutorial yang tidak mungkin kamu tumpuk dalam satu halaman (misalnya tutorial ganti oli atau tutorial membuat KTP). Sebagai diary tempatmu mengungkapkan atau melampiaskan perasaan (senang/kesal/marah/jengkel) dan mengemukakan opini atau pendapat pribadimu? Boleh banget! Itulah gunanya Post, dia bersifat dinamis.

Page: Bayangkan seperti Akun Profil Sosial Mediamu

Jika Post bersifat dinamis, Page memiliki sifat sebaliknya: statis, kaku dan bahkan cenderung permanen. Sama seperti akun profil di sosial mediamu seperti nama, username, kontak dan bio yang tidak akan kamu ubah setiap hari, kan? Page juga demikian, hanya diubah saat memang perlu. Jika Post mengandalkan pada timeline yang bisa kamu lihat di laman “Blog”, sifat Page tidak terpengaruh pada urutan pembuatannya. Lantas bagaimana? Kamu yang tentukan! Contohnya saja kamu bisa lihat menu-menu yang ada di atas website ini. Menu seperti Blog dan Contact merupakan contoh Page. “Blog” itu sendiri pada dasarnya juga Page, yang berisi post-post. Kalau kamu familiar melihat menu “About Us, itu juga termasuk sebagai Page. Dia berdiri sendiri, tidak peduli mana yang dibuat duluan mana yang belakangan. Jika sudah tidak relevan? Hapus!

Jika terdapat kategori dan tag pada Post, Page mengandalkan hierarki Parent dan Child untuk mengidentifikasi mana Page yang lebih penting. Selain itu, Page juga tidak masuk dalam radar RSS Feeds, tidak seperti Post. Kalau dari sudut pandang marketing, kamu bisa manfaatkan untuk membuat Promo atau Program yang menjelaskan dengan detail tentang produk atau promo. Bukan untuk mempromosikan ya, karena itu ranahnya Post, hanya sekadar menjelaskan. Post itu makanannya mesin pencari, sedangkan Page makanan untuk pengunjungmu. Mangkanya kamu bisa menumpuk About Us dan Contact agar mudah dipahami mesin pencari, tapi jika berantakan tanpa strategi, malah bisa membuat pengunjungmu lari!

Analogi Mudah Perbedaan Post dan Page

Nah itu tadi penjelasan terkait perbedaan konsep dasar antara Post dan Page dalam membuat halaman di website. Kalau kamu masih bingung, saya memiliki analogi mudah untuk menciptakan “Aha!” Moment di benakmu. Bayangkan Post itu adalah produk yang diperjualbelikan. Kamu tambah stock-nya setiap hari, kamu buat variasi dan kategori produk. Kamu lakukan diversifikasi, kamu perindah label kemasannya dan kamu pertahankan mati-matian kualitasnya. Bagaimana dengan Page? Page itu bagaikan brosur tempat kamu mempromosikan produk-produk yang kamu punya. Sifatnya statis, tapi berisi Post yang kamu buat.

Bagaimana hubungannya? Mengapa tadi dibilang saling mempengaruhi, terkait satu sama lain dan mengikat? Bayangkan jika brosur iklan itu kosong, tidak ada apapun yang diiklankan oleh brosur tersebut. Dapatkah brosur itu berguna? Itulah analogi mudah jika kita membuat Page, tapi tanpa didukung oleh Post. Page kita menjadi tidak berguna! Berlaku juga sebaliknya, membuat Post tanpa Page itu bagaikan kita tidak mempromosikan produk kita melalui brosur iklan. Tidak efektif sama sekali! Mungkin masih bisa terjual, tapi kustomer kesulitan memetakan apa saja yang kita jual karena mereka harus melihat-lihat manual produk di etalase kita satu per satu.

Menjengkelkan, bukan? Mata harus jeli dan perlu waktu untuk memahami apa saja yang kita jual. Brosur memudahkan pembeli mengetahui dan memetakan sesuai dengan kebutuhan mereka. Begitu juga saat membahas Post tanpa Page. Pengunjung harus membaca satu persatu post kita untuk mengetahui kita itu sebetulnya menulis apa. Page membantu mereka langsung memahami. Misalnya laman “About Us” langsung membuat pembaca paham blog ini bergerak di bidang apa. Mereka dengan mudah mengikuti (follow) web kamu jika cocok dengan kebutuhan mereka. Bahkan tidak mungkin menyimpan (save) untuk mengajukan kerjasama.

Halo para Blogger Newbie

Mau belajar banyak seputar membangun website dari N-0-L untuk pemula?

Leave a Comment