Sesulit Apa Membuat Website Menjadi Ramai?

Ada banyak dilema bagi pengusaha atau blogger kekinian saat ingin membuat website. Sesulit apa membuat website dari nol? Apakah saya bisa membangun website tanpa keahlian coding? Apa mungkin menciptakan website tanpa coding? Apakah semua orang bisa membuat website? Jangan-jangan hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki “privilege” untuk membuat website-nya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi noise awal yang muncul di benak kita hingga kita melupakan dua pertanyaan besar: “Apakah website benar-benar cocok untuk saya?” dan “Sesulit apa membuat website menjadi ramai?” Mari kita kupas satu per satu

Website: Pilar Internet yang Abadi dan Tak Akan Mati

Kamu mungkin berpikir: ah, sepertinya membuat aplikasi smartphone jauh lebih keren untuk bisnisku. Yang kamu tidak ketahui, bahwa aplikasi di hapemu belum tentu merupakan aplikasi 100%. Beberapa diantaranya merupakan adaptasi dari Website yang kemudian dioptimize supaya cocok digunakan di smartphone. Hal itu supaya tampilannya tidak mengganggu dan nyaman serta ramah bagi pengguna (atau yang kita sebut dengan User Experience/UX). Kamu pasti tidak menyangka, bukan? Beberapa aplikasi legendaris seperti Facebook atau Twitter menggunakan website mereka sebagai basis aplikasi di zaman dulu, dan selain itu ada alasan lain mengapa Website merupakan platform yang paling cocok untukmu, tempat berbagi terbaik dan promosi usaha paling powerfull.

Kelebihan dari aplikasi berbasis Website (Web-based app)? Tentu saja ringan dari segi budget. Kita hanya perlu melakukan 1 pengembangan website lalu berbagi platform antara visualisasi di laptop atau tablet, dengan di smartphone. Kekurangannya tentu saja tidak fleksibel dan terbatas pengembangannya dibandingkan dengan membuat aplikasi murni yang terpisah. Tapi toh brand besar pun memulai pengembangan dunia internet mereka melalui website sebagai starting point-nya. Apalagi untuk bisnis kecil-kecilan seperti kita, membangun aplikasi terasa Overkill, hanya pemborosan anggaran yang seharusnya bisa alokasikan ke, RnD misalnya? Atau marketing? Dan best part-nya, meskipun berbasis aplikasi, tapi CMS sekarang seperti WordPress sudah mendukung kustomisasi tampilan untuk smartphone.

Apalagi, sedari awal ada internet dulu, website merupakan platform yang mempelopori dinamika hutan belantara ini. Website bagaikan checkpoint saat mendaki gunung, kamu “tinggal” membuat lapak di gunung itu. Semakin ramai dan menarik lapakmu, maka analogi demikian juga berlaku di dunia internet: semakin ramai juga website kamu. Di saat platform lain seperti RSS Reader sudah tidak lagi populer, website masih menjadi rujukan utama saat ini bahkan di zaman AI sekalipun. Ingat platform game interaktif berbasis Flash? Mereka resmi punah saat era pandemi kemarin. Sementara website, sejak zaman dikembangkannya search engine seperti Google, sampai tanya jawab instan melalui AI seperti sekarang, website tetap tidak goyah. Berarti tanpa website-website yang berseliweran di dunia internet, mesin pencari ataupun AI hanyalah proyek iseng yang menunggu waktu kepunahannya seperti RSS.

Website akan selalu abadi sampai kapanpun sebagai penyangga dunia internet. Selama server masih dipelihara dengan biaya sewa, dan domain selalu diperpanjang, website kamu akan terus ada selama, kamu tidak lupa memberi akses ke anak cucumu supaya tidak mati. Tapi di platform Website Gratis Selamanya dari situse.org yang juga mendukung fitur seperti kustomisasi tampilan smartphone, fitur ala RSS dan best part-nya kamu tidak perlu pusing memikirkan biaya sewa server ataupun memperpanjang domain, beuh, nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Kamu akan rugi dan menyesal jika tidak dari sekarang memulai menancapkan taringmu di dunia internet melalui website. Semakin lama kamu berpikir, semakin kamu membuang 1 hari yang produktif untuk membangun dan meramaikan website milikmu sendiri (tanpa biaya!).

Seberapa Sulit Membuat Website Menjadi Ramai?

Nah kalau kamu sudah yakin membuat website, pertanyaan selanjutnya yang harus kamu tembus adalah apakah memang sulit membuat Website menjadi ramai? Hmmm untuk spoilernya, aku akan bilang akan sulit sekali jika kamu adalah orang yang suka dengan pemasaran instan yang langsung terlihat saat itu juga hasilnya. Tapi tidak akan menjadi beban jika kamu memang orang yang suka menulis bermutu (bukan copas, tambal sulam atau mengandalkan teknik AI Generated), serta bagi kamu yang terbiasa dengan konsistensi (dan ini satu paket dengan saudaranya: sabar). Ingat, kamu tidak sedang membuat Kerajaan Singasari dalam sekejap mata layaknya Ken Arok yang tidak sabaran membunuh Mpu Gandring dengan keris pre-order-nya untuk menaklukkan Tunggul Ametung karena kamu didukung Ken Dedes.

Bangun, ferguso! Kamu tidak didukung Ken Dedes! Website kamu bukan ahli keris seperti Mpu Gandrung. Dan dunia internet jauh lebih kejam daripada kuasa Tunggul Ametung untuk kamu kuasai dalam sekejap. Paket datamu tidak membantumu mempercepat pembangunan website hingga riuh, kecuali kamu punya modal raksasa untuk membentuk pasukan layaknya pasukan ajaib yang membantu Bandung Bondowoso membangun candi megah dalam semalam. Tuntutanmu lebih humanis daripada Roro Jonggrang, tapi kamu belum tentu Bandung (dan tidak selalu tinggal di Bandung hehehe). Fakta bahwa kamu mendarat di tulisan ini membuktikan kalau kamu memiliki nasib yang tak jauh dari saya: Mencari platform untuk membangun Website gratis, terbaik dan terpraktis. Dan kamu tidak salah sama sekali!

Website memiliki cara kerja yang kontras dengan sosial media. Di media sosial, berandamu akan penuh dengan konten milik pengguna lain setidaknya temanmu. Jika kamu tidak memiliki teman? Ada beranda umum atau yang biasa disebut Explore yang berisi konten-konten ramai dan viral milik orang lain. Saat kamu tertarik dengan satu konten katakanlah yang bapak-bapak suka otomotif, berandamu lambat laun akan dipenuhi dengan konten-konten berbau mobil atau sepeda motor. Ketika seorang mbak-mbak follow akun-akun kosmetik, lama kelamaan rekomendasinya tidak jauh-jauh dari produk bedak, skincare dan teman-temannya. Bahkan kalau sosial media yang kamu gunakan terintegrasi dengan platform lain seperti pesan singkat, katakanlah kamu sedang membahas Casing HP lucu dengan gengmu melalui chat. Ajaibnya, produk Casing HP bisa mendarat di story sosial mediamu meskipun kamu tidak pernah mencarinya sama sekali di beranda.

Ada beberapa akun usaha yang meningkatkan reputasi akun bisnisnya secara organik dengan membuat konten bermutu dan relevan, tanpa endorse, sehingga naik secara perlahan dan stabil sehingga reputasinya bertahan. Tapi, ada juga yang menggunakan teknik marketing instan “viral” yang bersifat singkat dan temporal, berdampak tingginya ekspektasi kustomer/pengguna, tapi seolah menjadi pedang bermata dua yang membuat pembeli lari jika tidak sesuai dengan ekspektasinya. Memang ada cara-cara marketing khusus yang membuat suatu konten di sosial media menjadi viral. Namun sebetulnya, viralitas dari sosial media ini memiliki sifat instan. Terlalu cepat suatu konten di sosial media naik, maka dia juga akan memiliki kecenderungan untuk cepat turun juga dan bahkan mempengaruhi “nasib” dari usaha atau bisnisnya, bisa sampai jatuh jika sudah tidak viral lagi.

Itulah yang disebut dengan Algoritma Sosial Media, seringkali tidak stabil, bisa naik drastis dan bisa terjun dalam waktu semalam. Dari awal, kamu disuguhi konten random, dan “mereka” akan mengikuti kecenderungan konten yang sering kamu lihat secara berkala. Hasilnya? Berandamu kemudian akan dipenuhi topik seputar konten itu. Tapi jangan berharap cara kerja demikian juga diterapkan di dunia website, kawand! Kamu tidak akan secara random mengetik alamat website untuk menjelajah isinya. Browsermu mungkin hanya berisi rekomendasi berita yang belum tentu sesuai dengan kebutuhanmu. Kalau ingin mencari sesuatu, mesin pencari seperti Google adalah pintu masukmu ke dunia website (sekarang pun portal yang sama digunakan oleh AI). Tapi apa yang terjadi saat kamu membuka alamat website dari si mesin pencari katakanlah Google?

Cara Kerja Algoritma Mesin Pencari yang “Spesial”

Di Google, kamu hanya disuguhi kolom untuk mengetik kata kunci. Tidak ada rekomendasi website apapun. Tidak ada fitur “Surprise Me!” ala website anime gratisan. Fitur “I’m Feeling Lucky” atau “Saya Lagi Beruntung” tidak superior seperti beranda umum di sosial media. Bahkan pada antar muka AI lebih “pelit” tampilan lagi, kamu seperti disuguhi chat yang, kamu tidak tahu harus berinteraksi dengan siapa. Tapi ajaibnya? Ketika kamu mengetikkan beberapa kata kunci, barulah akan muncul hasil pencarian yang relevan dengan yang kamu butuhkan. Itupun belum tentu akurat memenuhi kebutuhanmu. Agar kamu bisa menggunakan “dunia website” ini dengan optimal, kamu tidak akan disuapi ala cara kerja sosial media, kamu harus mandiri mengutak-atik kata kunci di mesin pencari (atau prompt, untuk AI).

Ketika kamu menemukan kata kunci yang tepat, akan mempengaruhi hasil pencarianmu. Semakin akurat dan spesifik, semakin kamu akan disodori website-website yang memang kamu butuhkan. Kamu belum tentu memerlukan berita seperti rekomendasi browsermu. Kamu bisa jadi mencari tukang sedot WC yang bisa dipanggil dengan cepat. Atau apa makanan legendaris yang ada di kota yang sedang kamu kunjungi? Rekomendasi game interaktif bisa muncul saat kata kuncimu berbau genre permainan tertentu. Resep masakan? Buku terbaru? Film dengan rating tertinggi? Makanan viral? Semua ada di hasil pencarian yang didominasi oleh website, selama kamu mengetik kata kunci dengan akurat.

Nah memprediksi kata kunci yang tepat ini juga menjadi tantangan saat kamu membangun website. Kamu dipaksa menebak-nebak apa isi pikiran orang yang memerlukan websitemu. Ini seperti permainan mencocok-cocokkan dan menjodohkan. Ketika kamu fokus pada kata kunci “Mobil 1.500 CC”, orang yang mencari website kamu mungkin berpikir “Mobil yang cocok untuk keluarga”. Mencari kata kunci yang tepat dan “klop” untuk semua penggunamu bukan permainan anak kecil, paman. Bahkan saya berani bertaruh tools premium sekalipun tidak benar-benar bisa menjadi cenayang yang membaca kata kunci yang diketikkan pengguna, ia hanya membaca tren… Dan kalau website kamu terpental di hasil pencarian mesin pencari, selamat, pembacamu tidak akan menemukanmu karena mereka hanya fokus pada hasil di halaman pertama (page one).

Terus Menulis, Itu Saja Rahasianya Meramaikan Website…

Jadi bagaimana tips dan triknya supaya ramai? Di sini, saya tidak akan memberi tahu kiat teknis karena sayapun tidak menggunakan teknik optimasi SEO aneh-aneh. Hanya sewajarnya saja seperti yang bisa kamu temukan di Buku Saku SEO untuk Blogger ini. Tapi saya beri tahu rahasia saya mengapa kamu bisa “klik” dengan post ini. Mengapa kamu pada akhirnya mendarat di post ini padahal ada banyak website lain yang memberikan tutorial membuat website: Saya hanya menulis. Menulis adalah passion saya. Dibilang hobi juga bukan, tapi, meskipun klise, saya senang berbagi. Suka sekali ketika tulisan saya pada akhirnya dinikmati dan bermanfaat. Meskipun interaksi di website tidak instan langsung ada like, komen and subscribe, tapi ada rasa tenang dan bahagia ketika seseorang berkomentar terima kasih, meski yang lain datang dan pergi (silent reader).

Semangat inilah yang terus memandu saya untuk terus mereproduksi konten. Saya lebih suka menulis berdasarkan pengalaman saya. Dan tentu pengalaman itu bukan sekadar asumsi pribadi, melainkan berasal dari tutorial yang juga pernah dibagikan kepada saya. “Kami diberi, kami memberi“, itulah motto saya sejak dulu pertama kali memiliki blog: diketemukan.blogspot.com. Saya menulis bukan karena terpaksa, bukan adsense sebagai motivasi, bukan demi endorse karena sedari dulu, belasan tahun lalu ketika pertama kali membuat blog, saya menyadari realitanya, bahwa membangun traffic untuk blog itu bukan hal mudah, itu hutan belantara yang kejam dan penuh predator…

Karena, alasan mengapa kamu menemukan suatu post tentang apapun yang “cocok” dengan yang kamu butuhkan, percayalah, sebetulnya kamu sedang mendarat di website atau blog yang sedang membangun reputasi positif. Melalui post yang dibuat secara organik, semangat berbagi dan upaya menjaga mutu tulisan se-alami mungkin. Karena itulah esensi dari blog, untuk dibaca oleh sesama manusia, selebihnya jika diindeks oleh mesin pencari, itu bonus… Dan setahu saya, algoritma mesin pencari sekarang menjadi lebih sehat karena sekarang lebih memprioritaskan artikel yang nuansanya bukan hanya User Generated Content alias dibuat secara natural oleh manusia, supaya nyaman dibaca orang (bukan robot mesin pencari), sekarang sudah bergerak ke arah Helpful Content alias, konten yang bermutu, memberi makna (termasuk curhatan pribadimu yang memberi hikmah), membantu orang lain… Jadi, jangan lelah menulis… Niscaya websitemu ramai, meskipun mereka sunyi…

Apalagi yang kamu pikir-pikir lagi?

Domain, Hosting dan Infrastruktur sebagai “Rumah” sudah Siap. Menulislah, hanya itu Tugasmu, kisanak

Leave a Comment