Barangkali kamu skeptis, ada apa di balik situse.org yang menyediakan platform Website Gratis Selamanya? Situse.org sendiri memang bukan inisiator perdana yang menawarkan layanan ini. Faktanya di luar sana, layanan seperti ini adalah layanan berdarah-darah karena banyak pemain yang memanfaatkan kegelisahan para pengguna saat melihat invoice pembelian domain dan harga sewa hosting yang tidak murah. Di samping itu, kuburan platform website gratis juga merupakan monumen peringatan yang penuh dengan trauma masa lalu para pengguna layanan website gratis.
Kalau saja situse.org lahir di awal gong kemunculan internet katakanlah di akhir tahun 90an atau di awal 2000an saja, kami mungkin akan menjadi oase yang kamu cari-cari. Apalagi, penyediaan website di awal kemunculan internet pada saat itu sangat tidak terjangkau bagi kita yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kamu tidak akan sungkan dan tidak berpikir dua kali untuk mengoptimalkan layanan kami semaksimal mungkin. Karena pada saat itu, tidak ada ekspektasi apapun selain memanfaatkan platform website tanpa biaya. Tidak ada pengalaman pengguna, tidak ada kiat dari AI, tidak bisa Googling. Hanya kamu, dan tulisanmu…
Tapi ternyata, itu hanya permulaan dari balapan yang sesungguhnya, dimana beberapa saat kemudian, para raksasa teknologi dan korporasi besar memanfaatkan momentum untuk membuat layanan website gratis. Pengguna mulai kebingungan menentukan mana platform yang akan mereka gunakan. Lalu, bermunculan trauma kolektif akan pengalaman menggunakan website gratis karena beberapa hal berikut:
Website Gratis Penuh Iklan
Jangan salah, website gratis sekalipun tidak benar-benar gratis, kami tidak menampik itu. Ada pepatah yang menyatakan jika suatu layanan gratis, maka sesungguhnya objek layanan itu adalah kamu, pengguna layanan itu sendiri. Maksudnya bagaimana? Dalam rangka mengumpulkan pundi-pundi dari platform gratis itu, korporasi tentu tidak akan memberikan layanan benar-benar secara cuma-cuma. Mereka akan menyematkan iklan yang brutal dan tidak masuk akal. Inilah trauma pertama dan paling mendalam sebagai trade off dari layanan website gratis. Iklan di sidebar mungkin masih manusiawi. Benar-benar di sidebar: samping dari artikelmu yang tidak terlalu mengganggu aktivitas pembaca.
Lalu, muncul iklan di footer alias bawah postmu. Oke, masih manusiawi meskipun algoritma mulai menyesuaikan: kamu membahas mengenai seksualitas, di bawah postmu muncul iklan suplemen ranjang yang mungkin ilegal. Kamu membahas kesehatan, yang muncul iklan obat herbal dengan klaim bombastis tapi sebetulnya tidak memiliki izin edar. Tiba-tiba muncul iklan placeholder di dekat menu, yang biasanya “iklan titipan” pengiklan dari website lain. Pop up besar yang membuat penemunya menyesal, tiba-tiba muncul menutupi layarmu sehingga mengganggu kenyamanan membaca, dan pop up ini tidak akan hilang meski kamu klik di luar area spanduk itu. Kamu kebingungan mencari tombol silang. Saat kamu menemukan, malah membuka iklan tersebut. Kamu sipitkan matamu akhirnya ketemu tombol close ads sesungguhnya yang tersembunyi. Kamu ingin beralih ke artikel lain? Ada klik tersembunyi yang mengarah ke new tabs… Kita semua pernah merasakan rasa frustasi itu, bukan?
Misteri Usia Website Layanan dan Ketakutan Kematian Mendadak
Korporasi besar atau raksasa teknologi memiliki hitung-hitungan yang rumit dalam membuat layanan yang sangat rentan ambruk ini. Bayangkan, biaya server itu tidak murah, membeli domain itu tidak gratis dan membuat aplikasi di dalamnya itu tidak mudah. Semua serba mahal dan rumit. Mempekerjakan orang untuk memelihara server, teknisi untuk memastikan servermu nyala 24/7, dan programmer ahli coding yang mengembangkan User Interface dan User Experience mereka sendiri khusus untuk layanan itu. Belum lagi mempekerjakan admin dan tim support untuk keluhan pengguna. Operasional mereka benar-benar tidak main-main untuk “bisnis” gratis seperti ini.
Sehingga untuk menutup biaya operasional tersebut, mereka harus memutar otak menggunakan segala cara. Mulai dari menyisipkan iklan yang brutal penempatannya hingga layanan premium yang tidak masuk akal harganya. Disinilah hitung-hitungan mereka menemui ajalnya: layanan premium ini terlalu menyasar untuk pengguna tipe korporat atau yang ingin naik kelas karena budget mereka sudah longgar. Tapi yang masuk pada jaring tersebut hanya segelintir, sedangkan sebagian besar pengguna memiliki anggaran yang terbatas. Pada saat monetisasi iklan tidak mampu lagi menutup biaya operasional, disitulah titik nadir layanan terlihat: layanan bisa tumbang dalam semalam!
Tidak Ada Filterisasi, Semua Bisa Mengeksploitasi
Demi memenangkan persaingan secara instan, mereka menggunakan banyak cara “ekstrim”. Ekstrim ini dalam sudut pandang teknologi lho ya, bukan pandangan orang awam. Ketika kamu mengunggah (upload) gambar hasil jepretan kameramu yang besarnya 10 MB itu, bagimu hanya aktivitas menyeret gambar biasa (drag and drop). Tapi di balik layar, beban server menerima 10 MB itu tidak main-main. Disaat 10 MB tidak ada apa-apanya di storage gadget kita, bagi server mereka itu bukan berkas yang ringan! Karena banyak pengguna yang tidak tahu “akrobat ekstrim” di balik layar ini, mereka dengan santainya mengeksploitasi server itu. Pengguna tidak merasa mengeksploitasi, tapi server merasa diperkosa!
Karena beban server yang luar biasa ditambah ada maintenance sewaktu-waktu yang mengacaukan server, tidak heran jika beban tersebut hanya tinggal menghitung waktu sampai peladen benar-benar jebol. Ingatlah kawand, dilema membuat layanan online itu tidak sesederhana yang kita pikirkan. Membuat infrastruktur nirkabel yang menghubungkan orang-orang, tidak seotomatis yang kita bayangkan. Jadi saat kamu membaca artikel ini sekalipun, ada banyak teknologi yang berjuang keras mengantarkan tulisan ini dari dashboard WordPress saya ke layar gadgetmu.
Spam, Judi Online, Obat Ilegal, Penipuan: Mimpi Buruk Platform
Karena tidak ada filterisasi dan formulir registrasi terbuka lebar seluas-luasnya, pengguna yang tidak memiliki itikad baik tersenyum lebar. Mereka dengan senang hati memanfaatkan platform layanan gratis tersebut untuk memasarkan layanan yang ilegal, seperti obat ilegal, judi online, melakukan penipuan dengan menyebar link phising, malware, virus, trojan, horse dan teman-temannya yang bisa mengambilalih gadget dan menguras uang korban yang klik tautan itu. Belum lagi menjadikan website gratis itu sebagai situs bajakan yang menyebarluaskan film, video atau game tanpa lisensi resmi yang berpotensi melanggar hak kekayaan intelektual.
Hal-hal seperti ini selain memancing gugatan hukum yang membuat platform mau tidak mau menyewa kuasa hukum (pengacara/advokat/lawyer), juga berpotensi mencoreng nama baik dari platform. Ujung-ujungnya jika suatu platform website gratis telah tercemar sedemikian rupa membuat pengguna enggan menghampiri website-website di bawah naungan platform tersebut. Luarannya, Google menjadi “alergi” dengan website dengan subdomain atau subdirektori yang berada di dalam platform itu. Dengan nama baik yang tercemar sekaligus mempengaruhi optimasi SEO Google yang menurun drastis, membuat platform website gratis itu menjadi sangat rentan.
Alamat Website Gratisan yang “Aneh”, Tidak Familiar dan Dihindari
Ini trade off yang membuat platform website gratis sulit untuk masuk di benak masyarakat sekarang. Meskipun di golden era blogging di Indonesia, platform seperti Blogspot pernah merajai dan menjadi preferensi utama orang yang mencari website gratis, namun situasi berubah 180 derajat sekarang. Kamu bisa mendengar kisah singkatnya di catatan blogger tentang histori aktivitas blogging di Indonesia ini, dimana adanya perubahan algoritma besar-besaran oleh mesin pencari membuat aktivisme blogger independen menyusut drastis. Hiatusnya para blogger pengguna Blogspot pada saat itu menandai berakhirnya era blog pribadi, membuat masyarakat menjadi tidak familiar lagi dengan website berbasis “Blogspot.com”.
Tidak hanya blogspot.com, masyarakat tak kalah bingungnya ketika mendengar website dengan alamat wordpress.com atau wix.com, meskipun “beruntungnya” dua platform tersebut juga menawarkan diri dengan layanan CMS dan website builder yang menyelamatkan bisnis dan reputasi mereka. Meskipun WordPress sama seperti Blogspot yang juga dihindari di kalangan akademisi karena validitas informasi dan argumennya yang dipertanyakan, namun WordPress masih dihormati oleh para webmaster karena menjadi platform CMS dibalik website-website profesional sekalipun saat ini. Tapi bagi kamu yang keberatan “membeli” domain setiap tahun, tentu platform itu tidak lagi menjadi preferensi utama.
Bagaimana dengan Platform Website Gratis situse.org?
Alih-alih defensif membela diri, saya paham sekali industri ini merupakan industri yang rentan. Setelah mengetahui rahasia dapur itu, kita justru harus sepakat bahwa platform ini bukanlah sistem yang terlalu sederhana atau terlalu luar biasa canggih di belakangnya. Jawaban lebih cocok adalah sistem yang membangun platform Website Gratis ini di belakang layar adalah luar biasa kompleks dengan adanya limitasi yang serba terbatas. Maka bagaimana solusinya? Bagaimana situse.org menyikapi agar “mengakali” supaya platform Website Gratis ini bisa berjalan dengan lancar dan ideal?
Alih-alih menyangkal bahwa kami adalah platform terbaik yang tidak ada batasan apapun, kami justru memvalidasi skeptisme komunal itu. Kami menjawab bahwa supaya platform Website Gratis berjalan dengan lancar dan ideal, justru pembatasan ketat harus dilakukan. Kami menuntut para pengguna untuk membuat konten yang bermutu setidaknya dua kali dalam seminggu. Kami juga meminta pengguna untuk mengefisiensikan multimedia yang diunggah supaya menghemat ruang sedemikian rupa agar tetap teroptimasi dengan baik.
Dengan segala keterbatasan yang ada tersebut, kita bayangkan situse.org adalah pekarangan kecil yang ramai. Dengan jumlah yang terbatas, kita harus mengoptimalkan sedemikian rupa ruang yang kita kelola bersama secara komunal ini. Tentu akan ada iklan untuk menutup operasional, namun kami desain se-manusia mungkin, tidak sampai mengganggu pengalaman membaca dan ergonomitas pembaca. Ada juga fitur premium namun sangat terjangkau bagi pengguna yang ingin naik kelas. Kalau kamu mau tahu operasional dapur kami, kami menganggarkan maksimal 5 juta rupiah per tahun agar server tetap menyala.
Dengan monetisasi seefisien mungkin dan fitur premium yang dapat kamu bayar dengan sukarela sebagai bentuk iuran tahunan, insya Allah dapat menutupi biaya operasional server tahunan tersebut. Kalaupun tidak benar-benar menutupi secara keseluruhan, terdapat subsidi silang karena platform Website Gratis dari situse.org ini berdiri di atas server perusahaan yang stabil dan prospek jangka panjang sebagai Corporate Social Responsibility (CSR), bukan sebagai sponsor. Apalagi dengan namanya yang membumi dan cocok untuk apapun urusanmu baik usaha, bisnis, personal diary ataupun hobi. Jadi tunggu apa lagi untuk membuat website kamu sendiri? Kalau masih ragu, mari cek bersama kenapa website gratis selamanya bukan untuk semua orang melalui post ini, apakah kamu termasuk yang berdedikasi, berjiwa penulis yang pantas membangun ekosistem situse.org menjadi pusat blogging yang sehat dan berkualitas ini?
Cuma di SITUSE.ORG, bikin web gratis segampang main sosmed! Tunggu apa lagi???