Catatan SEOrang Indie Blogger

Siapa sebenarnya SEOrang yang dimaksud itu?

Sugeng enjing, teman, kawan, rekan, saudara, konco, rencang, batur sekalian. Perkenalkan nama saya Akmal, yang dimaksud “SEOrang” dalam judul post ini tak lain dan tak bukan adalah saya – Akmal. “SEOrang”, terdengar aneh, ya? Tapi justru itulah keunikan saya. SEOrang yang berada dibalik situs kecil bernama situse dengan ekstensi .org alias organization ini.

Saya suka merangkai kata-kata menjadi istilah tidak biasa yang bahkan tidak populer sama sekali. Istri saya merasa kebiasaan saya ini aneh cenderung cringe. Bahkan mungkin istilah absurd yang saya ciptakan berpotensi membuat orang lain. Tapi terlepas dari apapun pendapat orang lain terkait istilah atau singkatan aneh nan absurd itu, saya yang paling menghargai kreativitas saya sendiri.

Perjalanan menemukan hobi kreatif seperti itu hingga berani mendirikan situs kecil seperti ini ternyata tidak singkat. Saya mengalami masa-masa yang juga dialami orang lain – bersekolah. Tapi di masa tersebut, saya suka merenungi buku yang saya baca. Bukan substansi bukunya karena dulu saya terkenal bodoh, pernah ranking 1 dari bawah bahkan matematika di ujian nasional pun dapat nilai 3 haha. Di buku pelajaran atau LKS itu, saya suka mengamati detail-detail kecil yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana istilah itu ada?

Mengapa disebut klorofil? Orang yang membuat istilah patrilineal itu berdasarkan apa? Mengapa istilah ekuilibrium disematkan pada mata pelajaran ekonomi anak sekolahan yang bahkan kesulitan mendefinisikan keseimbangan hidupnya sendiri. Dan dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang malah tidak pernah saya cari substansinya itu), saya berpikir berarti sebagai SEOrang, saya berhak membuat istilah saya sendiri terlepas apakah akan diakui secara umum oleh dunia hahaha. Dan begitulah, lahir istilah: -> SEOrang <-

SEOrang: Seorang pejuang SEO

Jujur, saya minder mencurahkan hati dan pikiran saya dengan embel-embel “Catatan” seperti judul post ini. Sebagai indie blogger atau penulis blog independen, saya bukan rekan mas Enda Nasution sebagai bapak blogger Indonesia ataupun sezaman dengan pak Onno W. Purbo yang mempelopori menulis blog. Bukan juga kenalan Mas Sugeng ataupun Arief Muhammad, atau komika Raditya Dika. Saya sama sekali bukan mastah ataupun suhu di dunia SEO.

Bisa dibilang meskipun pernah aktif blogging di Golden Era Blogging Indonesia (yang pada saat itu saya tidak sadar saya termasuk dalam era ini). Sebagai indie blogger yang terombang ambing dalam lautan generasi kedua, saya hanya ikut-ikut bawang saja. Seorang yang tidak banyak tahu seluk beluk website dan blogging tapi mencoba memaksakan diri ikut dalam euforia blogging yang begitu besar di tahun dua ribu belasan itu.

Sama seperti banyak indie blogging kebanyakan, saya tidak tahu harus mulai dari mana. Kadang melompat langsung melakukan kustomisasi template Blogspot sebelum tahu apa itu domain. Oprek widget dengan kode yang dicopas tapi sayangnya tidak bisa di save karena ada konfigurasi yang salah tapi saya tidak tahu dimana letak kesalahannya. Berharap memiliki Adsense dan memenangkan lomba blog SEO meskipun mentok-mentok artikel post saya hanya mejeng di page two mbah Google haha.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya pun “merasa” gelombang blogging mulai surut. Dan ternyata tidak hanya saya saja, teman-teman saya yang blog enthusiast pun merasakannya. Betapa kami melihat hasil pencarian website pengindeks lambat laun didominasi oleh media dan korporat besar. Kian hari, website yang mengekor ke subdomain “.blogspot.com” semakin langka. Disitulah letak runtuhnya gairah blogging SEOrang ini, ketika benak perlahan menjustifikasi “tidak ada harapan bertengger di page one”… Membuat saya dan mungkin banyak indie blogger termasuk anda barangkali, menepi alias hiatus.

Perkenalan tanpa jabat tangan dengan SEOrang

Kalau sampeyan relate dengan cerita singkat saya sebelumnya, selamat, kita senasib sepenanggungan. Kita pernah ada di era dimana ternyata saat itu disebut sebagai golden era blogging Indonesia. Sebab, jutaan orang bergairah membuat blog mereka tanpa topik khusus. Diary, curhatan, pendapat pribadi sampai pembajakan multimedia yang dilakukan banyak orang saat itu memiliki tujuan paling utama untuk berbagi, tak hanya sekadar mengejar monetisasi seperti yang terjadi di lini masa selanjutnya.

Jabat tangan virtual, nama saya Akmal. Saya bukan orang IT. Bukan lulusan sarjana komputer. Komputer pertama saya bukan Pentium dan CPU-nya masih rebah. Saya memulai blogging dengan “lepi netbook” (wah istilah ini istilah purba) yang mereknya merupakan plesetan dari “Agar Cepat Rusak” karena memang baru setahun digunakan, layar saya sudah minta diganti dan engselnya komat kamit. Saya mungkin serupa dengan rekan-rekan sekalian, kita punya hobi yang sama untuk ngoprek blog bahkan tanpa memahami makna dari internet terlebih dahulu dan bagaimana caranya bekerja.

Saya memulai blogging saat sekolah menengah atas, dan idealis tetap pada jalur white hat disaat teman saya mulai masuk grey area demi meningkatkan traffic websitenya yang mulai disaingi oleh perusahaan media dan korporasi besar. Tertarik blogging sejak mengikuti kompetisi blogging dan lomba SEO yang diadakan oleh perusahaan teknologi seperti Telkomsel, Oppo ataupun Jagoan Hosting. Itulho, lomba-lomba yang banyak dimenangkan oleh salah satu sekolah di glagah, mulai ingat kan?

Pada saat itu, mempelajari (atau mungkin lebih ke iseng daripada belajar) teknik SEO dan membangun website memberi kebanggaan tersendiri. Perasaan keren diketahui oleh lawan jenis saat testing kode HTML yang kita sendiri ga paham apa artinya. Menghabiskan bandwidth wifi sekolah yang disponsori IndiHome dengan tweak agar bisa berselancar mencari template dan widget yang keren berbentuk seperti antar muka tablet hingga sistem operasi windows. Kita tidak saling mengenal dan tak bernah bertemu, tapi gairah semacam itu sama-sama pernah kita rasakan secara kolektif.

Ketidaksadaran yang terlupakan

Ingat di pertengahan dekade dua ribu belasan? Secara magis, perasaan kolektif itu mendadak surut signifikan. Itu bukan hanya dirasakan oleh kamu. Saya berani bertaruh, itu dirasakan oleh banyak blogger pada saat itu. Saya pada waktu tidak mengetahui pasti, namun usut punya usut, banyak forum dan komunitas sedang membahas dinamika algortima mesin pencari yang tidak lagi ramah bagi blog independen.

Layaknya insting hewan, kita melihat traffic yang anjlok, pemberatan kriteria Adsense, dan hasil mesin pencari yang tidak lagi berpihak pada blog pribadi yang padahal menjadi pionir pilar dunia internet kita. Tanpa tahu persis ada apa gorengan apalagi belum ada AI, mulai saat itu, kita secara sadar atau tidak menarik diri dari dunia blog. Menepi dari aktivitas yang dianggap keren dan ekslusif pada saat itu.

Sama seperti kebanyakan rekan-rekan, saya yang saat itu tidak sadar apa yang sedang terjadi, memilih menenggelamkan diri dengan dunia akademik yang menyibukkan saya. Menjalani kuliah tentu menyita waktu. Saya lebih banyak menulis makalah daripada Blogspot saya. Lomba blog saya rasa tidak lagi prospek dan saya lebih memilih masuk jalur lomba karya ilmiah pada akhirnya. Waktu di blog saya seolah terhenti di pertengahan dekade lalu, menjadi artefak digital yang menanti dihapus oleh Blogspot.

Menyelesaikan kuliah sebagai akademisi hukum tentu prioritas utama saya pada saat itu. Hampir 4 tahun lamanya, saya tidak pernah login ke dashboard blog pribadi saya. Dan mungkin bukan hanya saya, kamupun merasakan hal yang sama di tengah apapun hiruk pikuk aktivitasmu yang padat saat itu. Kita tidak sadar dan bahkan kita lupa kalau dulu ada dunia besar yang pernah kita hidupi bernama: Blog! Atau bahkan bagi masyarakat, kata itu kian lama terdengar asing dan bahkan lebih populer sebagai, umpatan?

Hutan Belantara yang menjelma menjadi Kota

Saat akhir dekade lalu di penghujung studi, saya diajak oleh kakak tingkat saya untuk mendirikan kantor hukum sendiri. Saya direkrut di tengah keterbatasan sarjana hukum yang mengetahui seluk beluk dunia website (jangankan kaidah SEO, cara membuat website dari awal saja jarang ada yang tahu). Keisengan saya di masa lalu ternyata bertransformasi menjadi skill langka dalam industri yang saya tekuni. Memilih menggunakan agensi profesional tentu kami coret karena terbatasnya budget.

Saya kembali ke dunia yang dulu pernah saya tekuni, sebagai orang asing. Ekosistem internet yang dulu saya lihat sebagai hutan belantara dimana kita memanfaatkan kreativitas untuk eksis dan “bertahan hidup”, sekarang membuat saya terkejut karena berubah menjadi kota metropolitan. Bukan, bukan membuat saya terpesona oleh kemegahannya bak orang kampung yang baru mendarat di ibukota. Kondisi itu memantik pertanyaan krusial: Bagaimana saya bertahan dan bersaing dengan bangunan pencakar langit milik perusahaan media dan korporasi raksasa, dengan keahlian saya yang dulu layaknya tukang kebun di tengah hutan?

Merintis, tentu tidak semudah kata-kata bocil perintis yang aslinya pewaris. Keterbatasan pengetahuan yang berhenti beberapa tahun lalu ditambah budget yang tidak memungkinkan untuk sekedar membeli theme dan plugin premium. Kombinasi sempurna yang membuat saya hampir menyerah pada ekosistem bernama WordPress yang populer menjadi platform CMS dibalik suatu website, kontras dengan zaman dulu yang memakai Blogspot. Jangankan bahasa pemrograman, fiturnya saja saya awam!

Saya memulai dengan laboratorium sederhana. Saya tambah eksternal link dari Tumblr dan blog kampus yang mengarah ke website kantor saya sebagai backlink. Selain itu setelah sekian purnama, saya akhirnya login ke dashboard Blogspot saya untuk pertama kalinya dengan fitur forget password. Saya coba eksperimen sederhana mengikuti lomba blog yang lagi-lagi gagal saya menangkan karena saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa. Tapi dari hasil lomba tersebut, saya mendapat gambaran: Bukan hanya dunia nyata yang kejam, dunia internet sekarang sama brutalnya!

Mimpi Buruk Tukang Kebun di tengah Kota Megah

Kombinasi kenyataan yang terjadi di tengah kejamnya persaingan website, ditambah algoritma mesin pencari yang tidak ramah wong cilik, adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan bahkan saat kita terbangun. Bayangkan, ketika kita searching topik tertentu (seperti apa itu hukum dan keadilan misalnya), yang muncul bukan blog para ahli, melainkan portal berita yang menulis topik itu bahkan meskipun “jurnalisnya” bukan orang hukum. Akibatnya? Post yang kita baca cenderung datar dan tidak memiliki tone ala akademisi hukum karena hasil copas (atau bahkan lebih parah, AI Generated?). Apalagi kalau kebutuhan kita untuk menyusun karya ilmiah, hasil pencarian teratas itu tentu tidak memadai karena kajiannya tidak mendalam karena tidak ditulis oleh orang yang memiliki latar belakang keilmuan yang relevan.

Biang keroknya? Tak lain dan tak bukan algoritma mesin pencari pada dekade lalu yang tidak menekankan pada substansi atau gaya penulisan, melainkan hal-hal teknis website seperti Page Rank atau Domain Authority (dan sisanya bisa kamu tambahkan sendiri). Mesin pencari seolah tidak peduli siapa yang menulis, tapi lebih peduli seberapa rajin suatu website menerbitkan konten terlepas siapa orang di baliknya, apakah latar belakangnya match dengan tulisan yang dibuat?

Akibatnya masif dan bersifat domino: Para pemilik website berlomba-lomba membuat website berkedok portal berita, menulis apapun yang penting ia rajin. Rajin pangkal SEO, begitu katanya. Jangan bermimpi seorang professor yang awam dengan internet, bisa membuat tulisannya bertengger di page one jika ia tidak rajin menulis post di blog pribadinya. Kalau mau bersaing dengan penulis abal-abal yang asal copas, dia harus mengesampingkan hibah penelitian atau aktivitas mengajarnya, demi rajin membuat post berkala.

Sudah cukup sampai situ? Tentu tidak, ferguso. Website kita tidak akan naik signifikan tanpa ada andil dari tools-tools premium ala agensi website, katakanlah Ahrefs, Ubersuggest, SEMrush dan teman-temannya yang tidak terjangkau oleh perorangan atau UMKM. Kalau mau yang gratisan, pusingkan dirimu dengan memahami cara kerja Google Search Console atau Google Analytics. Belum lagi theme premium yang ternyata mempengaruhi SEO, dan plugin aneh-aneh seperti Yoast atau Rank Math SEO yang membuat tulisan post tidak lagi tampak natural, terkesan robotik mengikuti selera algoritma mesin pencari kala itu.

Visi Sederhana yang Muluk-Muluk

Dari “catatan” alias memoar itu, lalu apa yang ingin saya lakukan? Diam saja? Tentu bukan solusi. SAYA AKAN LAWAN! Layaknya rakyat yang berjuang melawan oligarki, kita pun berhak memperjuangkan hak yang sama. Bukan dengan turun ke jalan menuntut pembubaran para perusahaan media dan korporasi raksasa. Bukan menjadi pahlawan dengan menggugat korporasi-korporasi itu, ataupun berunjuk rasa di kantor perusahaan mesin pencari menuntut algoritma yang adil.

Saya bukan pahlawan yang mampu merealisasikan semua itu. Visi saya sederhana, mengajak, mempersuasi, mempromosikan dan mengkampanyekan nge-blog untuk kita semua dalam 1 atap yang sama. Daripada kita secara partikelir dan masing-masing membuat blog pribadi, mengapa kita tidak bernaung dalam 1 rumah. Setelah saya merenung semalaman, menghabiskan tengah malam di akhir pekan karena besoknya bisa bangkong, saya akhirnya memutuskan mengambil andil melakukan sedikit kontribusi dengan mendirikan tempat kongkow untuk kita semua bernama “SITUSE.ORG”.

Setidaknya, hanya itu sedikit effort yang bisa saya lakukan untuk kamu dan anda sekalian, para pemilik jari emas yang ahli menulis post blog, untuk mencurahkan apapun yang kamu pikirkan dalam platform sederhana yang saya sediakan ini. Jangan pusing dengan storage hosting karena saya percaya kebutuhan inodes hosting akan berbanding lurus dengan produktifitas tulisanmu sehingga saya tidak keberatan melakukan upgrade paket hosting demi kenyamanan hobi blogging-mu. Tagihan tahunan domain biar menteri keuangan alias istri saya yang urus. Urusan template/theme, plugin, atau hal teknis lain tidak perlu dipikirkan.

Mari kita lupakan checklist teknis SEO robotik ala algoritma mesin pencari melalui checklist plugin seperti Yoast SEO atau Rank Math yang datar dan minim tone. Kita tulis saja sesuai gaya kita masing-masing. Mau memberi tutorial ala suhu? Storytelling seperti yang saya lakukan? Atau berfilsafat, mempertanyakan dan mencari makna kehidupan? Kritik sosial dan ke pemerintah? Promosi usahamu? Silahkan. Kamu cukup membuat minimal 1 konten organik setiap minggu, lebih sering lebih baik!

Mari jadikan SITUSE.ORG rubrik inklusif yang meningkatkan kesadaran kolektif para blogger indie. Memang terkesan muluk-muluk, tapi saya hanya ingin membangun platform bersama layaknya sentra usaha kecil yang menaungi tulisan random kita dan kita jadikan rumah ini menjadi bangunan yang sedikit demi sedikit serta lama-lama menyaingi gedung pencakar langit milik perusahaan media maupun korporasi raksasa. Tidak perlu bayar atau isi formulir yang mengandung data pribadi, langsung buat Website Gratis Selamanya milikmu!

SITUSE.ORG mengundangmu untuk

Yuk Mulai Ngeblog!

Leave a Comment