Di zaman era keemasan blogging dulu, banyak orang-orang yang suka ngoprek website atau blog mereka sendiri. Lalu kita mengenal istilah template, yang waktu itu kita kira adalah cangkang kulit dari website kita. Biasanya kita sangat mementingkan tampilan daripada fungsionalitasnya. Ada yang bentuknya profesional. Ada yang template default ala blogspot yang sederhana. Kustomisasi menarik yang membuat bentuk blog kita terlihat seperti tablet android atau windows. Keren sekali rasanya kalau diingat-ingat zaman itu.
Tapi bagi kita banyak yang hiatus akibat badai algoritma Google yang tidak ramah bagi blogger indie apalagi pemula, seperti yang sudah saya lakukan napak tilas di post mengenang sejarah era blogger di Indonesia ini. Dulu, kita sangat familiar dengan dashboard CMS bernama blogspot. Salah satu kegemaran kita yang meningkatkan dopamin otak adalah mengutak-atik template blog kita dulu. Mengubah tampilan default nan membosankan menjadi tampilan norak, dengan tabrakan warna dan elemen yang kita sukai, hover mouse yang berubah dan musik yang mengalun setiap kali kita membuka website kita sendiri. Ah betapa indahnya masa-masa dimana blog adalah untuk semua itu.
Tapi ketika kita kembali setelah beberapa waktu reses, kekagetan akan menghampiri karena perubahan ekosistem besar-besaran. Dulu, dunia webblog itu bagaikan bengkel seni kita. Kita bebas berekspresi, bermain, corat-coret tanpa takut dicap norak. Sekarang, kita melihat ekosistem blog sekalupun terlihat seperti gedung dan bangunan, minimal sekali rumah dengan struktur yang… terstruktur. Blogspot sudah bukan lagi poros dunia. Semua website, didominasi menggunakan WordPress sebagai Content Management System (CMS), bukan lagi Blogspot.
Dengan perasaan aneh, kita daftar akun WordPress, kita online-kan website kita dan terperangah dengan antar muka yang begitu formal. Kemana letak dashboard kasual ala Blogspot dulu? Kita meratapi website kita yang sangat sederhana. Kita ingin sekali mengubah tampilannya agar tidak terlalu simple dan membosankan. Gatal rasanya tangan ini ingin melakukan kustomisasi tampilan, karena prinsip kita dulu: pengunjung betah berlama-lama diwebsite kita karena kita berhasil membuat mereka tercengang akan visual blog hasil karya tangan iseng dulu. Dan disinilah kamu menyadari, mengapa tidak ada menu suci dalam WordPress yang dulu sering kamu oprek: TEMPLATE!
Transformasi Makna Template Website
Setelah mencari tahu, googling atau bermodal AI gratisan, kita menyadari kalau sekarang sistemnya berubah drastis. Infrastruktur website tidak lagi mengakui istilah “Template” sebagai definisi tunggal untuk cangkang website kita. Elemen yang dulu kita berbagi dengan blogger lain di kolom chatbox tersembunyi: “Eh, aku minta template kamu dong, lucu!”. Tidak ada lagi tulisan merah yang muncul saat kita salah menempatkan kode HTML di kolom editor template, padahal bekal kita waktu itu hanya tutorial dari blog lain karena kita tidak punya dasar pemrograman yang kuat. Kita hanya siswa, hanya mbak-mbak yang bingung mau ngapain, mas-mas yang mencoba menyalurkan hobi dikala senggang.
Istilah Template sudah tidak lagi relevan untuk infrastruktur website zaman sekarang. Internet lebih memilih menggunakan istilah: Theme, alias Tema Website. Terdengar lebih aneh bin absurd karena di benak kita, tema itu tak ubahnya topik. Misalnya tema hukum perdata, tema kepariwisataan, dan sebagainya Mengapa justru jadi istilah teknis? Tapi begitulah realita yang harus kita hadapi. Sederhananya, kita menggunakan platform yang arsitekturnya sama sekali berbeda dengan Blogspot. Istilah Template tidak dikenal dalam dunia WordPress. Tidak ada lagi “kamu download template dimana?”, melainkan: “apa nama theme kamu? apa ada di pilihan theme?”. Lho, kok memilih? Bukan men-download?
Perbedaan Arsitektur Blogspot vs. WordPress
Template di Blogspot yang kita kenal dulu, ibarat membeli rumah kontainer yang langsung jadi. Bentuknya sudah pasti, ruangannya terbatas, dan ukurannya memiliki limitasi. Jika kita mau menambah kamar mandi kedua, kita harus melihat apakah ada “tempat” untuk instalasinya. Jika tidak ada dan kita memaksa untuk menambahnya, akibatnya gagal. Ibarat itu masuk sekali untuk menjawab pertanyaan kita dulu mengapa ketika kita memaksakan baris kode fungsi tertentu tapi template-nya tidak kompatibel, akan muncul: HTML Error. Sudah, tidak bisa di save, tidak bisa diapa-apakah. Solusi kita hanya satu, menghapus kode yang tidak relevan itu.
Berbeda dengan WordPress dengan sistem Theme-nya, ini diibaratkan rumah atau bangunan modular yang dibangun dengan bagian masing-masing secara independen. Kamu mau menambah kamar mandi dalam? Tinggal jebol dan buat instalasi sanitasinya. Kamu mau membuat ruangan tersembunyi di dalam kamar, sangat boleh. Dapur di ruang tamu? Mengapa tidak! Semua serba mungkin, asalkan kamu tidak menyelipkan kode yang salah. Jika di Blogspot kamu salah memasukkan kode, bagaikan menambah kamar mandi kedua, idemu ditolak mentah-mentah dari awal. Tidak mungkin dieksekusi. Tapi kalau di WordPress, kamu salah menambahkan kode fungsi? Voila, rumahmu hancur seketika. Menaruh kode yang tidak sesuai ibarat menaruh fungsi self destruction pada rumah kita. Salah langkah, tidak ada jalan kembali. Hanya layar putih yang berarti mati (atau menyerah?)
Template ibarat satu rumah yang sekali lihat langsung tampak gambaran umumnya. Kamu masuk rumah kontainer itu, kamu bisa melihat ada 2 kamar tidur, 1 kamar tamu dan 1 kamar mandi, plus 1 set meja dapur. Pada Theme di WordPress? Kamu harus membuka masing-masing ruangan untuk melihat apa isinya. Kamu tidak bisa tahu dalam sekali lihat. Bukan Blogspot lebih kecil atau WordPress lebih besar. Lebih tepatnya Blogspot lebih kaku tapi aman dari error, sedangkan WordPress lebih fleksibel tapi rentan jika kamu lupa menaruh pondasi rumah di websitemu. Dari sini semoga kamu tergambar ya perbedaan arsitektur antara Template dan Theme?
Template yang Turun Kasta dalam WordPress
Kamu harus tahu dalam arsitektur WordPress sangat kontras dengan yang digunakan di balik Blogspot. Dari penjelasan njelimet di atas, kamu menemukan bahwa Template itu ternyata hanya satu bagian page yang dikustomisasi sedemikian rupa dengan menambahkan elemen, widget atau fungsional lain, termasuk melakukan kustomisasi secara visual. Sedangkan Theme itu meliputi seluruh keseluruhan ekosistem website dari hulu ke hilir. Apa artinya? Ada penurunan marwah Template yang sebelumnya dikira Theme oleh para blogger, sekarang hanya menjadi salah satu bagian dari Theme. Dan ironisnya, WordPress tidak pernah menggunakan istilah “Template” secara teknis di dashboard mereka, meskipun istilah itu masih bisa ditemukan pada backdoor jeroan file-file .php. Tapi untuk kamu pengguna awam Blogspot, jangan kaget tidak menemukan istilah “Template” dengan mata telanjang, karena memang tersembunyi dalam file .php mereka.
Sekarang, Template ibarat hanya salah satu kamar di website, dan ia tidak disebut “kamar”. Ia menjelma menjadi Page. WordPress sangsi menggunakan istilah Template. Ibarat alih-alih menyebut “kamar andi”, justru malah disebut “salah satu ruangan dalam rumah andi”. Tapi sisi baiknya, Page ala WordPress itu lebih versatile dan dapat digunakan untuk banyak kepentingan. Ia dapat menjadi media promosi, pilar konten, bahkan homepage atau landingpage untuk melakukan Call to Action tertentu misalnya bertransaksi. Jika Theme bisa langsung dikustomisasi untuk diterapkan ke seluruh website, kamu bisa melakukan pengecualian terhadap satu laman melalui Template yang sekarang dapat kamu sebut sebagai Page. Tidak biasa bilang “Page” dan lebih suka pakai “Template”? Biasakan!!!
Dominasi Sang Pemenang yang Tidak Disengaja
Mengapa pada akhirnya arsitektur website mengikuti penyebutan Theme dan tidak lagi Template? Ini bukan soal ego korporat WordPress yang ingin menggunakan istilah Theme agar berbeda dengan Blogspot yang menggunakan Template. Memang benar WordPress menang dengan tidak sengaja menguasai pangsa pasar CMS di internet saat ini, tapi itu karena para user Blogspot seperti kita memilih hiatus, sehingga mengurangi dominasi Blogspot pada saat itu. Karena adanya penurunan signifikan, pasar yang awalnya dikuasai Blogspot mendadak jeblok, membuat WordPress yang awalnya berada tepat di belakang Blogspot menjadi tiba-tiba menyalip bersama dengan usernya yang stabil. Ibarat calon sang juara satu kakinya terkilir di tengah jalan sebelum mencapai garis finis, dan tidak sengaja membuat pelari di belakangnya menang.
Tapi memang harus diakui sejarah ditulis oleh pemenang. Karena WordPress memenangkan pertarungan ini secara tidak sengaja, ditambah pengguna Blogspot yang kian menyusun, mengubah paradigma besar arsitektur internet. Awalnya orang bertanya dengan istilah “Template” padahal yang ia maksud Theme WordPress, menjadi “Theme” digunakan dimana-mana istilahnya. Tapi selain faktor Tropi tak terduga ini, memang ada garis batas besar perbedaan antara Blogspot dan WordPress. Pada Blogspot cenderung menggunakan satu file tunggal dengan ekstensi .xml, apa kamu masih ingat? Di file itulah kita melakukan kustomisasi kode tidak jelas yang tidak akan bisa di save jika error. Meskipun berbeda arsitekturnya, tapi kita bisa bilang bahwa fungsi file .xml itu mirip dengan satu Page di WordPress dengan format .php
Sedangkan pada WordPress, alih-alih hanya menggunakan 1 file tunggal, sistemnya lebih kepada memiliki banyak file .php yang menyusun ekosistem websitenya secara modular, simultan dan saling terhubung satu sama lain. Apabila ada yang salah ketika kamu melakukan penyuntingan kode dengan fitur editor terutama pada modul terkait fungsi, atau yang kita kenal sebagai functions.php, websitemu seketika bisa runtuh dan muncul white death screen. Jika sudah seperti ini, kamu harus melakukan back up dan memperbaiki melalui belakang meja. Untungnya pada platform Website Gratis Selamanya situse.org, fitur ini dimatikan sehingga kamu tidak akan bisa tidak sengaja membuat websitemu pingsan. Mengapa kami batasi? Bagi pengguna awam seperti kita, keterbatasan ini justru menjadi fitur keamanan agar tangan kita tidak gatal mengotak-atik apa yang kita tidak tahu yang bisa menyebabkan, websitemu pingsan – jantungmu berhenti berdetak, sejenak… Jangan ya dek ya, semakin sedikit yang kamu tahu, semakin baik…
Sekarang kamu sudah tahu kan gambaran perbedaan antara Theme dan Template? Bingung? Kamu harus tahu di platform Website Gratis Selamanya dari situse.org ini, kamu sudah secara default disuguhi tema yang sangat SEO Friendly dan bisa kamu gunakan untuk apapun itu keperluanmu. Selain itu, kalau kamu mau lebih mengoptimasi tema website kamu secara profesional, kamu bisa baca 5 pro tip optimasi tema website ala profesional!
Halo para Blogger Newbie