Typo Bukan Sekadar Saltik!

Bayangkan kamu sedang lapar. Di rumah, keluargamu tidak masak apapun. Mungkin kamu sudah menikah dan istrimu seperti kamu, seorang wanita karir yang juga menjalani kehidupan sehari-hari sebagai pekerja. Berangkat pagi pulang sore bahkan lembur sampai malam. Kalian semua lelah, tapi lapar. Lalu, kalian sepakat akan membeli ayam geprek favorit kalian yang jaraknya dekat dari rumah. Mau keluar untuk membeli, malas sekali meski jaraknya tidak jauh. Kalian menyesal tidak memotret program pengantaran dari kurir resto yang gratis ongkir di bawah 1 kilo meter, padahal kebetulan rumah kalian masuk dalam range Promo “FreeOng” itu. Solusinya? Ojek online!

Kombinasi yang tepat sekali: di rumah tidak ada makanan, terlalu capek untuk masak, ayam geprek ini favorit kalian, dan jaraknya dekat sehingga tidak butuh lama pengantaran ojek online itu untuk sampai di rumah sehingga bisa memenuhi kelaparan kalian. Kalian buru-buru membuka aplikasi tersebut setelah memastikan saldo e-wallet kalian lebih dari cukup. Biasanya di aplikasi, ada menu khusus untuk memesan makanan secara online. Tapi karena lapar dan tidak fokus, kalian linglung mencari icon itu. Akhirnya mata kalian terfokus pada satu fitur yang sepertinya jarang digunakan oleh orang: Search Bar! Dengan kesal karena kehilangan fokus, istrimu bilang “pakai ini saja carinya! cari satu-satu kelamaan!”

Istrimu spontan membantumu klik fitur Search Bar di hp yang sedang kamu pegang. Kamu setuju, tidak ada argumen apapun untuk menangkis pendapat istrimu. Lagipula, kamu ragu apakah resto itu pernah masuk daftar Favorit di menu pesan makan. Karena lapar sudah menyerangmu dengan membabi buta, kamu dengan tergesa-gesa mengetik “Aym Geprej”. Tanpa “A”, dan huruf “K” yang terketik huruf “J” karena berdekatan. “Ah, typo, biarlah, aplikasi kan sudah pintar, pasti dia tahu apa maksudmu”. Kira-kira itu yang muncul di benakmu. Tanpa kamu duga, aplikasi kebingungan. Karena Search Bar ini fitur untuk umum, yang keluar malah ayam potong di fitur toko (Shopping) dan destinasi yang mengarah ke minimarket Frozen Food terdekat dari rumahmu dengan fitur motor.

Kamu kesal. Dengan sedikit tenaga tersisa, kamu hapus karya ketikmu yang saltik tadi. Kali ini kamu benar-benar mengumpulkan fokus untuk mengetik dengan benar “a-y-a-m g-e-p-r-e-k”. Oke kamu crosscheck ulang, sudah benar. Kamu segera klik enter. Kamu mulai scrolling mencari mana ayam geprek favorit kamu. Tapi bukannya muncul di hasil pencarian paling atas, ia tidak tampil sama sekali. Yang ada malah resto lain. Mulai frustrasi, kamu ingat-ingat sekuat tenaga nama resto ayam geprek yang kamu inginkan. Ingat! Segera kamu ketikkan nama resto itu di kolom pencarian, dan ternyata ada! Dia tidak tutup seperti yang kamu kira!

Kamu buru-buru masuk dan langsung disuguhkan suggested item dengan gambar ayam geprek yang kamu maksud. Mantap! Pikirmu. Ayam geprek sudah didepan mata, selangkah lagi! Begitu kamu tambah ke keranjang 2 item (kamu dan istrimu), kamu beralih ke laman Checkout. Pelan-pelan kamu cek ulang detail pesanan dan alamatnya, lalu kamu klik “Pesan!” setelah kamu yakin sudah benar. Ah, leganya dirimu. Tapi saat muncul laman pemesanan, kamu tidak sengaja fokus ke nama menu yang kamu pesan: Ayam GepreL! “Ah, pantesan!”, benakmu. Pantas saja tidak muncul di hasil pencarian, wong restonya sendiri juga typo menulis menu mereka sendiri, mentang-mentang huruf L berada dekat dengan huruf K.

Mesin Pencari seperti Google Berjalan di Prinsip yang Sama Persis!

Kegelisahan yang kamu rasakan saat membaca kisah itu bukanlah klise belaka. Masalah yang sama seringkali terjadi juga di dunia internet yang penuh sesak dipenuhi oleh jutaan post. Mesin Pencari seperti Google tentu perlu selektif, diantara jutaan post itu tidak semua merupakan post yang substansial. Ada post yang dianggap bertele-tele, eliminasi. Post yang terlalu berorientasi pada mesin pencari daripada pembaca, eliminasi. Post yang terlalu pendek, eliminasi. Post yang tidak layak bahkan melanggar Term of Service, eliminasi. Begitu seterusnya termasuk mengeliminasi post yang penuh dengan Typo atau saltik sebagai “dekorasinya”.

Sehingga, post yang muncul di hasil pencarian halaman pertama (Page One) bisa dikatakan bukan hanya terbaik, tapi paling terbaik diantara terbaik! Tentu kamu hanya mengandalkan post yang muncul di laman pertama bukan sebagai pamungkas, itupun di urutan teratas (top search result). Yang muncul di tengah dan bawah seringkali hanya “dekorasi” yang kamu abaikan. Halaman kedua mungkin hanya hasil pencarian alternatif untuk melengkapi info yang sudah didapat di hasil pencarian di halaman pertama (itupun jika tidak lengkap). Halaman ketiga, keempat, kelima dan seterusnya? Kujamin tidak akan pernah kamu buka sebelum kepepet!

Google menyaring artikel untuk masuk ke halaman pertama dengan prinsip yang sama. Analogi sederhana seperti kamu memancing ikan dengan jaring, yang terkena masuk hanyalah ikan yang ukurannya lebih besar dari jaring. Ikan yang ukurannya mepet jaring? Seringkali tidak tertangkap. Apalagi ikan yang berukuran kecil, mini bahkan masih anakan, pasti mudah terlepas (ini pengibaratan sempurna untuk artikel kurang berkualitas (Thin Content). Apakah penyaringannya selesai? Tentu tidak. Yang tertangkap di dalam jaring belum tentu benar-benar akan digunakan.

Di atas perahu, nelayan akan memilah-milah lagi. Ada predator seperti hiu yang turut ikut dalam jaring? Tentu dibuang. Ini ibarat post yang dibuat oleh para predator SEO yang ikut terjaring, dan hanya berorientasi pada mesin pencari (bukan pengguna). Ada juga sampah-sampah seperti artikel-artikel tidak penting, tidak sesuai dan bahkan topiknya melanggar ketentuan Google, sudah pasti akan tereliminasi meskipun turut ikut dalam kloter jaring itu tadi. Google pada akhirnya seperti nelayan, hanya menjajakan produk yang kualitasnya terbaik di etalase mereka.

Dan ini juga berlaku terhadap kualitas tulisan, termasuk sebanyak apa Typo atau saltik yang dimiliki oleh suatu artikel. Prinsip yang sangat sederhana dan relate dengan contoh kasus kamu cari makan “Ayam GepreL” di aplikasi ojek online juga diterapkan dengan ketat oleh Google, bahkan di titik yang sangat ekstrim. Semakin banyak, semakin kecil harapan kamu muncul di hasil teratas halaman mesin pencari. Jika sudah begitu, kemungkinan artikelmu, sebaik apapun kualitasnya, akan sampai ke layar pengguna layanan Google akan semakin tipis! Mari kita belajar membuat post terbaik mulai dari mengeliminasi Typo. Yuk kita mulai dari memahami isi dari suatu post artikel di website ini!

Halo para Blogger Newbie

Mau belajar banyak seputar membangun website dari N-0-L untuk pemula?

Leave a Comment