Semua orang tentu mendambakan kalau tulisannya dibaca dan dinikmati oleh banyak orang. Namun sebagai pemantik awal, judul mutlak akan mempengaruhi impresi dari pembaca, seperti emak-emak atau bapack-bapack yang sering kegocek sama judul yang click bait. Tapi dalam membuat judul juga perlu disisipi etika menulis, tidak bisa sembarangan. Sehingga membuat judul artikel itu sebetulnya susah susah gampang. Susah karena kita harus berada di tengah-tengah di antara kata-kata yang terlalu sederhana dan kata-kata yang terlalu bombastis. Gampang ketika kita sudah bisa mengetahui polanya, walaupun tetap saja perlu mikir keras. Di kesempatan ini, setelah kamu memiliki website sendiri di platform Website Gratis Selamanya ini, kita akan membedah apa saja do’s and dont’s dalam membuat judul artikel yang menarik.
Kolom Judul Harus Diisi, Tidak Boleh Dilewati!
Karena artikel website atau blogmu ingin viral, kolom judul menjadi haram untuk dilewatkan tetap kosong. Walaupun sebetulnya dimungkinkan karena tanpa judul sekalipun post tetap dapat dipublikasikan, tapi efeknya akan domino. Pertama, pembaca jadi tidak memahami konteks artikel yang kamu buat. Pada sebagian besar pembaca, judul menjadi penentu apakah artikelmu menarik atau tidak. Jika ada judul saja artikelmu belum tentu membuat mereka tertarik, bagaimana jika tidak ada judul sama sekali? Selain itu, banyak pembaca yang suka mengambil gambaran umum atau bahkan menyimpulkan dari judulmu. Jika judul yang sudah ada saja bisa membuat seorang pembaca menebak isinya bahkan bisa memutuskan apakah ia akan tetap lanjut membaca artikelmu atau tidak, bagaimana jika artikelmu kosong tanpa judul? Sebaik apapun kualitas artikel, jika postmu tayang tanpa judul sama seperti memberi kotak kosong tanpa keterangan alias Mystery Box, sebagus apapun isi sebenarnya dalam kotak itu. Untuk efek domino kedua? Teruskan membaca!
Perhatikan Maksimal Huruf dalam Judul
Berkaca dari pengalaman saya sebagai peneliti dan penulis karya ilmiah, judul juga memiliki jumlah maksimal karakter yang direkomendasikan. Biasnaya, karya ilmiah idealnya memiliki judul sekitar 12 sampai maksimal 16 kata, termasuk kata hubung. Lebih dari itu, menurut saya sudah tidak optimal karena terlalu panjang dan sudah bisa ditebak: membingungkan. Judul sendiri berisi variabel, semakin banyak variabelnya semakin sulit diidentifikasi oleh pembaca. Dengan kata lain: “ini tulisan maunya bahas apa, sih?”
Di dalam menulis artikel website, memiliki kaidah yang hampir sama. Tapi berdasarkan pengalaman saya, semakin sedikit kata, semakin baik. Tapi tentu ada rambu-rambunya, meskipun sangat sedikit misalnya kurang dari 10 kata, judul tersebut harus mewakili isi dari artikel tersebut. Semua variabel harus muat dalam judul yang kurus itu. Bahkan secara ekstrim, saya menyarankan judul artikel maksimal 5 kata saja. Kalau kamu mau memberi bumbu agar menarik, lakukan di meta title pada snippet. Hal ini supaya mesin pencari mudah dalam merayapi artikelmu, apalagi jika judulmu sudah mengunci kata kunci tertentu.
Jika kamu mau menggunakan parameter karakter, usahakan judulmu maksimal 50 karakter. Dan sebisa mungkin, saya rekomendasikan hanya terdiri dari huruf, sedikit angka dan kalau bisa tidak ada karakter lain seperti tanda hubung atau karakter yang aneh-aneh. Karakter yang masih diperbolehkan mungkin hanya tanda tanya (?), tanda seru (!) atau separator (-) dan tentu saja spasi. Hal ini mempermudah mesin pencari dalam mengindeks halamanmu dengan lebih mulus, apalagi didukung judul yang mengandung kata kunci.
Judul Post sebagai Heading 2 (H2)
Pssst, ini adalah trik Search Engine Optimization (SEO) yang jarang diketahui banyak orang meskipun teknik ini sudah ada selama belasan tahun. Bukan hanya manusia yang menikmati suatu artikel dari judulnya. Mesin pencari (seperti Google, Bing, Yahoo) memiliki robot crawler yang siap melahap artikelmu saat merayap diatas suatu website. Dalam website, tentu ada judul utama yaitu judul websitemu yang bertindak sebagai Heading 1 (H1). Judul artikel atau laman yang ada di bawahnya? Bertindak sebagai Heading 2 (H2). Sehingga keberadaan judul sendiri sangat penting karena bukan hanya membuat manusia bisa memahami konteks, melainkan dinikmati pula oleh robot mesin pencari sebagai jaring di bawah websitemu.
Bayangkan pucuk websitemu sebagai jaring utama memiliki judul “Warung Sate Nusantara” sebagai H1. Ketika kamu membuat post atau page dengan judul “Jenis Sate yang ada di Indonesia”, Google akan menganggap itu sebagai jaring lanjutan bernama H2. Bayangkan jika tidak judul untuk post atau page yang kamu buat, bagaikan dari jaring utama website (H1), robot crawler akan terpeleset langsung ke bawah artikelmu tanpa ada jaring penyambung bernama H2 itu. Apakah kamu suka terpeleset? Analogi yang sama juga harus diterapkan ke si robot crawler mesin pencari. Mereka juga tidak suka terpeleset secara tiba-tiba. Kamu bisa memahami banyak tentang struktur Heading Websitemu di post ini.
Cari Inspirasi dari Artikel Website Lain
Namanya juga terinspirasi, maka sah-sah saja jika kamu mempelajari pola yang digunakan oleh blog-blog lain dalam menulis artikel. Teknik ini sering kita sebut sebagai teknik ATM (Amati-Tiru-Modifikasi). Bingung mau mulai mencari contoh artikel dari mana? Kamu bisa memanfaatkan situse.org, karena disini adalah ekosistem tempatnya berkumpul para blogger sehat, dan kamu bisa menjadi salah satu dari kita! Apalagi, salah satu manfaat Website Gratis Selamanya dari situse.org selain kamu bisa mengisi waktu luang (killing time) dengan menulis, kamu juga bisa membaca artikel milik website dan blog lain yang ada di ekosistem inklusif ini.
Jangan Click Bait jika Tidak Relevan!
Siapa bilang membuat judul click bait itu dilarang? Dalam ilmu komunikasi, terkadang click bait itu diperlukan agar audiens memiliki chemistry terlebih dahulu ke artikel kita. Apalagi jika artikel kita berbobot, membuat judul yang terlalu berat itu membosankan dan mengurangi daya tarik artikelmu. Kadang, kita memerlukan teknik click bait untuk memancing netizen membaca artikel kita, sebagai jangkar penyambung antara pembaca dengan tulisan yang kita buat. Bayangkan judul itu seperti jembatan, tentu kamu lebih tertarik menyebrangi jembatan yang penuh lampu, desain menarik dan dipenuhi ornamen, dibandingkan jembatan biasa yang remang-remang untuk dilintasi di malam hari.
Judulmu memiliki fungsi yang serupa seperti jembatan itu! Dengan catatan tentu selama kata-kata dalam click bait yang digunakan itu memang relevan dan mewakili artikelmu. Bingung? Saya beri contoh. Di salah satu artikel, saya pernah mengulas mengapa tidak perlu membayar untuk membuat website sendiri. Jika saya gunakan “Mengapa Tidak Perlu Membayar untuk Membuat Website Sendiri?”, tentu judulnya terlalu membosankan selain sangat panjang seperti truk Australia. Maka di snippet mesin pencari, judulnya saya ubah dengan pancingan “Jangan Bayar untuk Membuat Website!“. Selain jauh lebih pendek juga menarik orang yang penasaran untuk klik.

Tapi tentu dalam menggunakan teknik Click Bait ini, kita harus menggunakan etika dan harus relevan dengan artikel kita. Ketika saya berani menggunakan judul “Jangan Bayar untuk Membuat Website!”, tentu saya harus menawarkan solusi website yang benar-benar tanpa biaya. Sebagai contoh dalam post saya itu, saya sah-sah saja untuk menggambarkan betapa menyeramkannya struktur biaya yang harus ditanggung jika ingin membuat website. Maka solusinya saya benar-benar memberikan alternatif yang websitenya 100% gratis secara jujur. Sering kali Click Bait yang tidak beretika menyatakan jangan bayar untuk membuat website, tapi dalam artikelnya murni beriklan menyarankan mereka jangan membayar di platform lain, tapi gunakanlah platform mereka secara berbayar juga. Kalau artikelmu seperti ini, dijamin audiens akan kapok dan mem-blacklist websitemu!
Jangan Terlalu Ilmiah, kecuali…
Sering kali karena beberapa dari kita adalah jebolan peneliti yang suka sekali menggunakan bahasa ala vikinisasi, bahasa-bahasa ilmiah yang tidak umum digunakan di tengah masyarakat dan lebih sering digunakan di forum-forum akademik. “Ekstraksi dan Kristalisasi Kosmetika Teruji di Indonesia”. Terdengar keren dan dramatis bukan? Di benak kita… Tapi coba tebak siapa yang tertarik untuk klik judul yang terlalu tinggi padanan bahasanya itu? Apakah emak-emak yang suka gonta ganti skincare tertarik?
Maksud saya, sah-sah saja kamu menggunakan judul yang bersifat ilmiah. Tapi kamu harus tahu lebih dahulu siapa target marketmu, yang mana audiens yang akan kamu sasar. Jika kamu memang ingin mengharapkan para peneliti, civitas akademisi, dosen, mahasiswa, pelajar untuk mampir dan memanfaatkan artikelmu, silahkan! Karena mereka juga kebanyakan memang memerlukan referensi dari website yang nuansanya ilmiah, seperti misalnya di industri saya ada Hukum Online. Di perpajakan, ada DDTC News. Kamu bisa mempelajari teknik-teknik marketing seperti ini di salah satu kategori kita yaitu Teknik Digital Marketing dan Pemasaran, tinggal klik saja!
Judul juga Jangan Terlalu Ndakik-Ndakik
Apa maksudnya terlalu ndakik-ndakik? Maksudnya, judul yang kamu buat terlalu bombastis, muluk-muluk, utopis. Terlalu too good to be true, kecuali memang kamu berani 100% menguji klaim itu. Misalnya kamu membuat judul “Kosmetik Terbaik di Indonesia”, tentu ini terlalu fantastis tanpa didukung misalnya uji laboratorium klinis dari BPOM dan direkomendasikan oleh banyak ahli, bukan ahli dalam perusahaanmu saja. Meskipun begitu, ketahuilah, masyarakat sudah jengah dengan judul overclaim seperti “Direkomendasikan oleh 9 dari 10 ahli”… Plis, itu teknik marketing yang sudah usang dan tidak lagi relevan untuk menarik minat banyak masyarakat. Sekarang, orang-orang sudah kritis dan skeptis: ada udang di balik batu!
Tapi Jangan Sampai Judulmu Terlalu Sederhana
Kalau judul yang terlalu “wah”, bombastis dan fantastis harus dihindari, kebalikan dari sifat itu juga tak kalah penting untuk dipertimbangkan tidak digunakan. Jika judul terlalu generik, bukan hanya tidak menarik di mata pengunjung, judulmu juga akan bersaing dengan ribuan judul lain yang menggunakan kosa kata generik? Contohnya? Ya judul post ini: Cara Membuat Judul Menarik. Yaps, judul post ini saya akui memang menjadi contoh terlalu generik sudah banyak yang menggunakannya haha. Tentu saja saya tidak tinggal diam dan pasrah, saya gunakan judul di Snippet untuk menarik perhatian pengunjung dengan kombinasi judul Click Bait untuk menarik perhatian pengunjung.
Judul yang terlalu sederhana, umum, bermain aman dan generik ini juga dibenci oleh mesin pencari, karena sudah terlalu banyak kembarannya di luar sana sehingga Google sulit merekomendasikan judul yang “unik” kepadamu selain menarik. Padahal, judul ini akan menjadi daya tawar utama dan referensi pertama kali bagi mesin pencari saat akan merekomendasikan artikelmu. Ini semua sebetulnya adalah aturan emas dari apa yang disebut sebagai SEO. Kamu kira nangkring di halaman pertama (page one) Google itu mudah? Jangan menganggap sepele sampai kamu menemukan banyak sekali teknik SEO dalam kategori Buku Saku SEO Blogger ini!
Pahami Nuansa dalam Industrimu. Apakah Formal atau Santai?
Setiap industri memiliki tone masing-masing disesuaikan referensi umum penggunanya. Sebagai contoh industri saya yaitu hukum, seringkali identik dengan profesionalitas. Masyarakat menilai kalau konsultan hukum, notaris, hakim, jaksa dan pengacara itu dipandang selalu menggunakan jubah dan jasnya yang bernuansa formal. Maka, kata-kata yang sering digunakan dalam industri ini adalah “Anda” dan “Saya. Kontras dengan industri kosmetik misalnya yang konsumennya tidak segmented, bahasa sepert “Kamu”, “Aku” dan “Kakak” menjadi sangat sering digunakan, mencerminkan industri ini melekat dengan pemasaran yang sangat santai (meskipun berdarah-darah).
Kamu tentu perlu jeli memperhatikan dan menimbang, apa nuansa yang ingin kamu gunakan. Apakah Formal seperti industri jasa pada umumnya, santai seperti pasar barang eceran, atau semi formal seperti artikel yang sedang kamu baca ini? Tentu semua memiliki ceruk pasar masing-masing, dan kadang mengalami pergeseran. Seperti di industri saya, hukum mulai dilirik oleh masyarakat urban menengah ke bawah yang juga mulai ingin menyelesaikan masalahnya melalui jalur hukum, berbeda dengan stigma masa lalu yang menganggap jalur ini adalah jalur “mewah” dan “mahal” sehingga golongan yang bisa mengakses adalah kalangan atas. Beberapa platform hukum mulai inklusif, menawarkan jasanya pada milenial dan gen Z yang jengah dengan layanan-layanan profesional dan eksklusif.
Sisipkan Elemen Viral/FOMO secara Sehat
Sering mendengar judul yang memanfaatkan Viral atau Fear of Missing Out (FOMO) yang mengaduk-aduk reaksi dan emosi masyarakat? “Makanan Viral Bikin Mau Meninggal!”, pernah menjadi judul menggelegar yang sering digunakan oleh food vlogger lokal beberapa waktu lalu. Tidak ada salahnya menggunakan kata-kata berbau ketenaran seperti itu, yang menciptakan perasaan agar masyarakat ikut serta dalam suatu tren. Tapi pahami batasannya bahwa cara menggunakan elemen Viral atau FOMO dalam judul itu juga harus fair. Jangan sampai menyinggung, apalagi mengajak masyarakat untuk melakukan hal yang negatif. Untuk tips ini, Do It With Your Own Risk! (DWYOR)
Gunakan Listicle (Nomor) Jika Memungkinkan
Tips ini tidak perlu dipraktekkan secara strict, hanya tambahan jika kamu ingin artikelmu menarik. Seperti judul yang saya gunakan di Snippet artikel ini untuk menarikmu masuk, saya menggunakan judul “11 Cara Agar Judul Artikelmu Menarik!”. Dengan nomor seperti “11 Cara”, “7 kiat” atau “9 tempat wisata menarik”, memberi kesan bagi pembaca bahwa artikelmu sangat lengkap, mungkin berbeda dengan artikel lain yang hanya memberi dua atau tiga poin saja sehingga mereka harus mengumpulkan sendiri dari beberapa website yang tidak lengkap itu. Dengan penomoran yang terkesan banyak seperti ini memberi stigma “wah, artikel ini lengkap, aku tidak perlu mencari-cari di website lain yang mungkin tidak lengkap”, sehingga mereka cenderung memprioritaskan untuk klik artikelmu.
Tapi tentu ada batasan yang perlu diperhatikan, yaitu jangan sampai menipu mereka. Walaupun dalam teknik SEO yang akan kita bahas dalam kategori Buku Saku SEO untuk Blogger, listicle ini tidak perlu menggunakan format penomoran (numbering), tapi jangan menipu mereka tidak sesuai dengan klaim judul artikelmu. Misalnya kamu klaim ada 10, tapi hanya ada 5 saja. Selain itu, hanya gunakan kiat ini jika memang benar-benar relevan untuk dimanfaatkan. Jika kamu hanya menyuguhkan 1 saja, maka sangat tidak direkomendasikan menggunakan teknik seperti ini. Gunakan semua teknik secara bijak!
Manfaatkan AI sebagai Output, bukan Input
Di zaman serba AI ini, tentu sulit melepaskan aktivitas hidup kita dari AI, termasuk membuat artikel. Tapi jangan sampai memaksa AI sebagai input untuk membuat judul dengan prompt “Buatkan aku judul yang menarik!”. Niscaya, judulmu bisa jadi tidak sesuai dengan kemauan pasar, bahkan absurd karena mengandung kata-kata yang formal, profesional, ilmiah dan ndakik-ndakik sekaligus (karena jawaban AI cenderung menggunakan bahasa yang formal ala vikinisasi alih-alih bahasa yang membumi). Bagi saya bahkan haram hukumnya memanfaatkan AI untuk men-generate kontenmu tanpa ada konteks yang jelas dan diwujudkan dalam prompt yang bermutu.
Sebagai orang yang paling paham pasar, kamu tentu harus membuat draft judulmu terlebih dahulu. Apakah ada penggunaan kata yang menarik bagi calon pengguna layanan atau kustomermu. Apalagi kamu juga harus lihai dan jeli membaca dinamika pasar yang bisa kamu tangkap polanya dari konten-konten yang berseliweran di berandamu. Dari situ kamu bisa menilai apakah draft judulmu relevan dengan kemauan pasar, atau sebaliknya? Setelah kamu yakin, kamu bisa manfaatkan AI untuk brainstorming, menguji dan mengoreksi apakah judulmu sudah tepat atau belum. Jadi, jangan mengandalkan AI karena ia tidak tahu persis apakah es kepal milo viral di daerahmu atau tidak! Mereka adalah kecerdasan buatan, sedangkan kecerdasan (dan kejeniusan) alami sejati yang sesungguhnya, ada di tempat yang sama dengan mata yang membaca tulisan ini!