Lika-Liku Perjuangan Membangun Website

Sebagai orang awam, entah blogger iseng atau pengusaha UMKM, mendirikan website tentu bukan perkara mudah. Sesederhana apapun pandangan kita tentang website (misalnya kita mengira hanya kumpulan coretan layaknya mengetik di aplikasi macam Microsoft Word), membangun website sendiri tentu seperti menghadapi hutan belantara yang kita tidak familiar. Mengetik tentu aktivitas yang relatif mudah: cari inspirasi, buka aplikasi pemroses data seperti Microsoft Word, pilih padanan kata per kata, ketik, save! Rasanya sesederhana kita beraktivitas biasa seperti di rumah kita sendiri.

Namun meng-online-kan tulisan itu, tentu urusan yang berbeda. Kita sudah punya produk yang ingin kita jual, kita berhasil memproduksinya walaupun bagi sebagian yang ahli tampak mudah, sebagian lagi harus berdarah-darah. Namun, tentu kita berharap produk itu digunakan oleh khalayak umum. Kalau kita tidak bisa “menjual” produk itu di luar rumah, apalagi pasar tempat para pengguna layanan berkumpul untuk mengetahui “sesuatu” yang baru, sama saja bohong. Kita akan terkungkung pada kemewahan produk itu tanpa diakui oleh masyarakat luas.

“Lho kan tinggal kita jual saja di pasar depan rumah”, sanggahmu setelah mendengar analogi saya itu. Tunggu dulu! Dalam dunia internet, rumahmu tidak praktis berada tepat di dekat pasar. Yang ada di depan rumahmu belum tentu jalan raya yang kamu tinggal menawarkan produk dan mereka berbondong-bondong menyambutnya. Ekosistem di sekitar rumamu bisa jadi rawa-rawa, lautan atau bahkan hutan belantara yang sangat besar yang harus kamu lalui untuk menjangkau pasar atau tempat keramaian!

Hei, bangun, sadar! Kamu bukan pemilik modal raksasa yang bisa membangun gerai di pasar terdekat atau menyewa tenant di mall megah. Memiliki “tempat” di dekat pusat keramaian bukan perkara mudah dan murah. Bayangkan dengan modal dan skill terbatas, kamu hanya bisa membeli rumah subsidi di pinggir kota atau bahkan perkampungan. Yaps, itulah ekosistem di sekitar rumahmu. Kamu perlu perahu, kendaraan atau guide yang bisa membantumu dari rumah terpencil itu, sampai ke kerumunan penuh aktivitas. Kecuali jika kamu adalah pemilik modal yang berani membeli rumah dekat pusat kota, atau memiliki skill untuk terbang secara kilat dari rumahmu ke pusat kota. Tapi sebagian besar dari kita, tidak punya itu.

Sederhana Tapi Menyakitkan: Sulitnya Menjual Produk

Punya produk yang sangat bagus sekali bahkan fungsional belum tentu membuat orang langsung tahu kalau produkmu luar biasa. Bertha Benz dan suaminya saat membuat invensi pertama kali bernama mobil, perlu waktu beberapa tahun untuk memperkenalkan penemuan spektakulernya. Mulai dari perjalanan singkat ke rumah orang tuanya, kehabisan “bensin” di tengah jalan sampai harus membeli bahan bakar di apotek, dicap penyihir (witch) oleh penduduk lokal, melintasi berbagai desa yang melihat aneh mereka karena menggunakan sesuatu yang bergerak tanpa tenaga makhluk hidup.

Padahal itu adalah barang fungsional: kendaraan yang dapat bergerak sendiri, mengantar manusia dari satu tempat ke tempat lain, tapi tidak langsung diterima oleh banyak orang seperti sekarang. Ada proses dari awal ditemukan hingga sekarang menjadi barang impian banyak orang dan tentu itu tidak mudah dan bahkan seringkali melelahkan. Berjuang mengenalkan mobil dari pelosok Jerman hingga ke beda benua seperti Amerika bukan perjuangan mudah. Apalagi mengingat mobil ini bisa sangat membantu: mudah, murah dan tidak rentan sakit serta lapar seperti carriage masih menggunakan tenaga hewan seperti domba, kuda atau kedelai (eh, keledai).

Jika produk yang inovatif seperti mobil saja perlu waktu bertahun-tahun lamanya, bagaimana dengan produk kita yang mungkin generik atau sulit menyaingi produk yang sudah ada di pasaran? Tentu menyebarluaskannya akan sangat sulit. Dulu di awal era internet mungkin relatif mudah, seseorang bisa menjual slot kosong di websitenya untuk mengiklan karena algoritma saat itu masih sehat. Sekarang? Karena ada upaya mengakali sistem, algoritma dirancang sedemikian kerasnya hingga tidak ramah bagi pemula seperti kita. Bahkan membangun website sebagai kanal menyebarluaskan produk, memiliki teknik yang berbeda dengan teknik SEO untuk menyebarluaskan produk kita. Membangun website seperti membangun pabrik kendaraan, dan menyebarluaskannya seperti pekerjaan para sales di dealer kendaraan. SEO adalah teknik berjualannya, dan Algoritma? Kebutuhan masyarakat yang difasilitasi oleh mesin pencari.

Keringat dan Air Mata Blogger (yang lelah menatap layar)

Saat kamu mulai menulis, kamu harus mengetahui apakah tata bahasa, padanan kata dan kalimatmu menarik untuk pembaca. Ini adalah pemahaman dasar yang mutlak dikuasai oleh Blogger, karena inilah tulang punggung tulisanmu akan dibaca oleh mereka. Membuat tulisan yang menarik tentu bukan perkara mudah seperti kita menulis chat untuk pasangan, keluarga atau teman kita. Ada teknik menulis seperti storytelling yang digunakan oleh post seperti ini agar pembaca menikmati aliran dari kata per kata. Tidak bisa seenaknya langsung menulis secara egois tanpa berpikir “apakah tulisanku menarik bagi pembaca”? Kecuali kamu hanya curhat urusan pribadi di kehidupan nyata karena itu rumah personalmu. Kalau kamu berniat menjual produk atau sharing hobi yang berharap dibaca orang, maka kamu harus tahu dulu bagaimana agar orang membaca tulisanmu!

Itu baru satu hal, membangun website dimulai dari nol adalah tugas yang menanti untuk kamu sentuh selanjutnya. Kamu bisa baca di post ini tentang sulitnya membangun website mulai dari menentukan nama website, ekstensi domain yang digunakan, biaya sewa hosting yang tidak ramah kantong pemula, minimnya tutorial hingga kamu benar-benar sampai pada CMS seperti WordPress. Untuk kamu yang memiliki jiwa babat alas yang kuat, kamu akan berkutat di layar laptopmu, memerah tenaga dan pikiran untuk mengerti “apa maksudnya”, bahkan memakan waktu berhari-hari jika waktumu terbatas karena kesibukan lain.

Hobi atau Aktivitas Ini Tidak Didukung Pemerintah!

Ini spoiler alert bagi kamu yang nekat ingin membangun platform kamu sendiri, usahamu tidak akan didukung oleh pemerintah sama sekali. Apalagi kamu teringat pengalaman menggunakan website pemerintah yang sulit dinavigasikan karena tidak ramahnya tata letak website (pemerintah sering tidak peduli dengan User Experience,/UX yang penting program jalan, dana cair dan bahkan tidak peduli dengan penampilan website). Kamu sadar bahwa pembangunan website oleh masyarakat sama sekali bukan program prioritas pemerintah meskipun mereka sering menggaungkan digitalisasi, elektronisasi, elektrifikasi, atau jargon bullshit lainnya yang ndakik-ndakik.

Hebatnya dikala kamu susah payah membangun platform untuk tulisanmu sendiri, dan pada saat running kamu sudah sukses mengambil perhatian banyak pengguna yang membuat traffic-mu melonjak (serta ingat, memaksamu upgrade server agar websitemu tidak sering downtime dengan harga tidak murah!) yang mana kondisi itu mengalirkan pundi-pundi rupiah ke kantongmu, pemerintah malah dengan senang hati bukannya memberi suport, justru membebankan pajak penghasilan yang tidak masuk akal prosentasenya! Bahkan, program relaksasi pun sudah tidak berlaku lagi untuk para Blogger. Padahal, mereka tidak membantu membangun website, membiayai tools premium atau mempromosikan websitemu sama sekali. Tidak ada dukungan berarti, tapi kamu dipalak oleh pajak penghasilan normal!

Di titik ini kamu berpikir apakah ada solusi untuk kita yang sama-sama awam masalah website, mulai dari membangun kendaraan hingga mempromosikan tulisan atau produkmu dengan media kendaraan itu. Dan utopisnya, kamu berharap ada program Website Gratis Selamanya yang benar-benar tidak menuntutmu mengeluarkan biasa sepeserpun bahkan membantumu membangun website dengan tutorial sederhana yang ramah bagi pemula gratis!. Jawabannya adalah: Ada! Kami, situse.org adalah platform yang kamu cari. Bukan program binaan pemerintah, bukan kapitalis pencari untung semata, tanpa sponsor atau hibah iklan dari pihak tertentu melainkan tak lain dan tak bukan hasil visi dari SEOrang yang ingin menciptakan ekosistem menulis yang sehat untuk pemula seperti kita!

Tunggu Apa Lagi?

Kami Adalah Kendaraan Niaga Bersama

Leave a Comment