Cara Membuat Website Gratis Selamanya

Secara umum, ada dua stigma besar yang membelah masyarakat awam terkait website. Pandangan pertama akan meremehkan kekuatan dari suatu website. Di benak mereka saat mendengar istilah “Website”, hanyalah suatu situs yang berisi informasi dominan tulisan dan disertai gambar. Bagi mereka, membuat website itu sangat mudah. “Cuma gitu, thok.”, pikir mereka. Kadang tidak salah, tapi juga tidak benar, mari kita lihat pandangan kedua masyarakat awam mengenai website.

Pandangan kedua masyarakat awam justru kebalikannya, kontras sekali dengan pandangan pertama akan website. Golongan ini cenderung “melebih-lebihkan” website seperti seolah-olah teknologi canggih yang diwariskan turun temurun oleh alien dan hanya menjadi berkah bagi beberapa orang yang dapat membangunnya. Mereka cenderung berpikir bahwa website itu sama misterinya seperti mustahilnya menemukan surat perintah sebelas maret (SUPERSEMAR) yang asli.

Lantas, bagaimana realitanya? Disini, SEOrang akan memberi insight atau gambaran. Bukan sebagai mastah atau suhu di bidang per-website-an. Bukan programmer ahli ataupun sarjana komputer. Bahkan dalam titik tertentu, saya tidak selalu memahami koding, tidak terlalu banyak berbeda dengan pandanganmu karena saya pun pernah berada di kedua pandangan ekstrim tersebut. Saya pernah merasa website itu hal sederhana, tapi ketika pertama menyelaminya justru melihat tembok yang sangat tinggi.

Di kesempatan kali ini melalui judul post yang provokatif, SEOrang akan membedah mengapa membuat website sendiri itu bukan ide yang bagus. Tentu post ini tidak relevan bagi kamu yang sudah familiar dengan website atau bahkan latar belakangmu di bidang itu. Post ini tentu sangat cocok sekali bagi kalangan masyarakat awam yang tidak memiliki gambaran utuh tentang apa sebenarnya website itu. Mari kita bedah mengapa kamu jangan membuat website sendiri, dan sebaiknya menggunakan Website Gratis Selamanya dari situse.org:

1. Menentukan nama website yang memusingkan

Katakanlah nama usahamu Toko Sukses, dan kamu telah memutuskan untuk membuat website dengan nama tokosukses.com. Dengan bersemangat, kamu membuka website register untuk mendaftarkan nama domainmu. Tapi kamu harus menerima kekecewaan melihat tulisan bernuansa merah atau muncul tanda silang lengkap dengan tulisan “TIDAK TERSEDIA/UNAVAILABLE”. Bukan berarti nama website itu tidak ada: Nama website itu SUDAH ADA YANG PUNYA layaknya penjual yang bilang “stok kosong” karena sudah laku! Alih-alih mendapatkan nama website yang kamu dambakan, kamu justru ditawari saran yang terlihat masuk akal, misalnya: tokosukses.online. Jangan senang dulu, yuk lanjutkan membaca!

2. Memutuskan ekstensi domain yang “misteri”

Laman tokosukses.online terlihat seksi sekali. Seolah-olah melalui ekstensi domain “.online” itu, pelangganmu akan membaca bahwa tokomu sekarang memiliki versi online. Keren untuk dipamerkan di meja kasirmu, tapi tidak berdampak signifikan bagi mesin pencari seperti Google. Ini adalah fakta yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang bahkan para pegiat website, bahwa memilih ekstensi domain ibarat memilih lokasi tanah kavling. Semakin strategis, semakin menjadi rebutan. Jika nama tokosukses.com sudah ada yang memiliki sedangkan alamat tokosukses.online justru masih ada, menandakan ini bukan domain “sakti” dibandingkan domain yang sudah familiar di telinga banyak orang: .com

3. Domain terasa “murah”, sampai akhirnya…

Kamu menyelami bahwa mendaftarkan domain .online bukan hal bijak karena sulit dilacak oleh mesin pencari, tidak seperti .com misalnya. Lalu kamu menemukan ada domain yang sama kuatnya dengan .com, yaitu .net (yang juga cocok untuk ritual peng-online-an, selain ekstensi non-profit yang juga kuat seperti .org). Akhirnya kamu menemukan nama website yang sesuai, misalnya toko-sukses.net. Lalu, sekarang apa? Setelah kamu tanya AI, langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah membeli: Hosting. “Apa pula ini?”, mungkin itu yang ada di benakmu sembari alismu berkernyit.

4. Website bukan sekadar nama, ada harga!

Harga domain mungkin tidak seberapa. Domain .net kamu beli sebesar 100.000-an, dengan pajak menjadi sekitar 120.000 untuk satu tahun. Otakmu langsung otomatis menghitung: oke setiap bulan aku hanya membayar 10.000 (padahal biasanya 120.000 itu hanya promo untuk tahun pertama, tahun kedua biasanya naik dua hingga tiga kali lipat!). Not bad harganya untuk domain tahun pertama. Padahal, setelah itu ada biaya bulanan lebih besar yang akan menghantui: biaya sewa hosting! Hosting itu ibarat tanah yang harus kamu beli (selain lokasi tanah untuk domain tadi). Harganya bervariasi menyesuaikan ukuran dan kualitasnya.

Nama alamat domain yang sudah kamu beli itu hanya lokasinya saja, kamu perlu tanah untuk menyimpan websitemu. Dan jangan salah kaprah, kamu bukan “membeli”, lebih tepat menyebut kamu “menyewa” hosting. Untuk harga rata-ratanya? Sekitar 30.000 per bulan! Otakmu kembali mengkalkulasi harga yang tiga kali lipat dari harga bulanan untuk membayar website. Gila, dalam satu tahun praktis kamu harus mengeluarkan biaya setidaknya 360.000 belum termasuk pajak! Hitungan kasar? Biaya pengadaan website di awal yang harus kamu transfer adalah sebesar 500.000-an belum termasuk pajak!

Gila, padahal 30.000 itu bare minimum supaya websitemu berjalan lancar, karena kalau kamu cari ternyata ada yang biaya sewanya hanya belasan ribu, tapi tentu dengan ukuran dan kualitas yang apa adanya. Akibatnya kata AI? Websitemu bisa berjalan tersendat-sendat dan rentan down. Maka dengan berat hati, kamu mengeluarkan uang segitu banyak dan tagihan tahun depan akan menghantuimu kembali dengan kemungkinan harga yang lebih tinggi lagi. Selamat datang di dunia website yang kejam dan mahal!

5. Hutan Belantara Digital yang Nyata

Oke kamu sudah check out domain dan hosting setelah pusing tujuh keliling membanding-bandingkan harga bundling promo untuk 1 tahun pertama. Kamu sekarang tahu mengapa perusahaan hosting menulis angka besar 30.000 rupiah untuk biaya sewa hosting, tapi ternyata itu dibayar per bulan (dengan keterangan “per bulan” yang lebih kecil ukuran font-nya). Ekspektasi awalmu hanya mengeluarkan 150.000 per tahun hancur karena realitanya bengkak meroket tinggi menembus angka 500.000. Kurang menantang? SETENGAH JUTA! Yash, setengah juta, pikiranmu mulai kalut dan bahkan tidak bisa membayangkan jika “harga promo tahun pertama” ini berubah tahun depan. “Mungkin ada cara untuk pindah ke hosting lain supaya selalu mendapat harga promo tahun pertama”, pikirmu. Oke, gagasan yang bagus, tapi jangan di-search.

Setelah kamu mentransfer tagihan website pertamamu, kamu diarahkan ke menu dashboard. Boom! Tidak ada ucapan terima kasih atau apresiasi kamu telah mengeluarkan modal awal yang begitu besar untuk online. Dan di tengah pikiran kacaumu, kamu mendapat masalah baru lagi: Tidak ada tutorial! Tidak ada video atau step by step yang menjelaskan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya. Pilihanmu hanya menyelami post dokumentasi yang belum tentu ramah bagi pengguna awam, atau berpusing ria dengan AI, berpikir bagaimana mengetikkan prompt yang cocok untuk menjelaskan apa maksudmu, kamu sampai dimana dan kamu mau apa. Belum lagi penjelasan AI tidak selalu sesuai dengan dashboardmu. Kalau kamu tidak familiar dengan AI? selamaT tersesaT~

6. Teknisnya??? SEO dari nol???

Katakanlah kamu memiliki keinginan kuat untuk benar-benar membangun website dari nol. Kamu akan menemukan seabrek teknis bagaimana cara mengelola website. Beberapa kata kunci yang akan kamu temukan tak akan jauh dari: nameserver, propagasi, control panel, PHP, error log, htaccess, wp-config, softaculous, hingga akhirnya kamu jauh menyelam sampai instalasi CMS seperti WordPress.

Ketika menemukan menu “add post” di WordPress, yang mana instingmu mengatakan ini sepertinya adalah langkah pertama untuk membuat konten pertamamu di website, kamu kira kamu bisa bernafas lega? Jangan sampai kamu kecewa bahwa setelah kamu “publish” post itu, kamu tidak akan langsung menemukannya di internet. Satu hari, satu minggu, satu bulan dan kamu mulai menyadari bahwa ternyata menulis post saja tidak cukup membuat artikel perdanamu muncul di Google begitu saja.

Kamu merasa ada yang salah, sampai ketika kamu tanya AI mengapa artikelmu tidak muncul di hasil pencarian Google, dia memberikan satu kata utama yang membuat kamu mengernyitkan dahimu: SEO. Voila! Kamu akan menemukan bahwa kaidah SEO (Search Engine Optimization) alias cara supaya Google menaruh artikelmu di hasil pencarian teratas, itu tidak kalah rumitnya. Website barumu itu bagaikan bayi yang baru lahir, diurus tanpa ada “treatment” khusus kemungkinan kecil akan membuatnya seperti selebriti atau orang berpengaruh/influencer. Banyak orang mengira menjadi influencer itu mudah, tapi tidak tahu kalau mereka menggunakan banyak privilege untuk menjadi orang terkenal. Serupa, tanpa “privilege” tertentu, websitemu ibarat orang yang bekerja siang malam, tapi tidak akan terkenal.

SITUSE.ORG: Website Gratis Selamanya (dan mudah)

Apakah kamu mengira penggambaran saya terhadap dunia website bagi orang awam itu terlalu kejam dan mengada-ngada? Kamu bisa tanyakan ke AI validitasnya atau pastikan ke kenalanmu yang pernah membuat website, saya jamin mereka akan tersenyum getir. Begitulah realitasnya yang tidak diketahui oleh banyak orang, membuat website sendiri itu bukan susah-susah gampang melainkan susah, susah, susah! Jika kamu sudah sampai pada tahapan kelima, jika iman dan jiwamu tidak kuat, kamu langsung lompat ke kesimpulan paling menyedihkan sekaligus tragis: website itu bukan untuk orang awam. Seolah, sistem pembuatan website dimanapun didesain sulit agar melanggengkan eksistensi agensi pembuat website.

Tapi jangan sedih. Kamu memang menyadari meski website itu digital (tidak dapat disentuh), dia tetap terikat pada hukum fisika. Dia bukan “sesuatu” yang tercipta begitu saja. Di baliknya, ada server berbentuk superkomputer (yang jauh lebih canggih dari PC kita) yang menjadi alasan utama mengapa membuat website itu mahal dan tidak mudah. Dari realita pahit itulah, SITUSE.org hadir untuk menjawab keluh kesahmu sebagai holy grail alias cawan suci. Di kami, kamu tidak perlu membayar apapun untuk menikmati fitur esensial memiliki website sendiri. Kami menyediakan tutorial post untuk kamu jadikan buku saku, dan tutorial itu pasti work karena dilengkapi dengan screenshot dari dashboard yang akan kamu “hadapi”.

Apakah situse.org too good to be true? Saya pikir yes, jika saya jadi kamu pun akan berpikir demikian. Tapi kalau kamu lihat nama website kami, sudah ada clue yang sempat kita singgung sebelumnya: domain berekstensi .org! Kami adalah organisasi elektronik khusus untuk situs (situs”e-org”). Domain .org bukan memiliki antonim dari “Orang”, melainkan “Organisasi” yang berarti kami sifat utamanya non-profit. Sehingga sebagai organisasi, layanan utama kami tentu tidak boleh mengambil biaya untuk pengguna yang ingin mengelola websitenya sendiri dengan fitur esensial yang melimpah. Operasional kami berasal dari sponsor, monetisasi dan layanan premium yang pastinya ditujukan untuk operasional kami.

Selain itu, ekstensi .org sendiri memiliki kekuatan magis di mesin pencari. Internet menghormati .org seperti pahlawan tanpa menuntut gaji, karena kami memang berjalan secara non-profit dan biasanya memiliki tujuan tertentu seperti dalam hal ini, situse.org memiliki tujuan untuk menginklusifkan kepemilikan website, meningkatkan kesadaran kolektif akan ekosistem blogging yang sehat, serta mengedukasi aspek website. Kamu tidak membuat website bagaikan bayi baru lahir dari nol, tapi bayi yang memiliki privilege karena website utama kami yaitu situse.org sudah terindeks oleh Google. Kamu – bersama banyak blogger lain – hanya perlu ikut berkontribusi membangun ekosistem sosial di situse.org ini.

Tidak perlu pusing memikirkan cara instalasi website atau teknis SEO, cukup: MENULIS! Add Post akan menjadi sahabatmu, dan biarkan sisanya kami yang urus. Kalau kamu memerlukan tutorial supaya SEO websitemu meningkat, ada plugin yang kami sediakan lengkap beserta tutorial pada beranda kami: buku saku khusus blogger pemula. Dan ini gratis! Kamu tinggal menyelami post artikel di situse.org. Kabar baik lainnya? Kamu tidak perlu memberikan data pribadimu apapun. Kamu bukan objek dalam layanan ini untuk disalahgunakan spam/scam. Cukup isi formulir seputar websitemu, lalu online!

Buat apa pusing-pusing bikin website sendiri yang merogoh kantong dalam?

Yuk, Online Sekarang!

Leave a Comment