Di kesempatan sebelumnya, kita sudah sempat mengulas mengenai ketentuan umum bagi kamu yang mau mulai blogging. Blogging disini dalam artian benar-benar memfungsikan website kamu untuk kamu corat-coret, ketak-ketik, mencurahkan isi pikiran kamu atau mempromosikan produk kamu secara serius, bukan seperti bermedia sosial dengan menggunakan Facebook, Twitter/X, Instagram, TikTok dan teman-temannya yang bisa viral modal kalimat super singkat atau gambar estetik. Jika kamu pernah menggunakan Quora atau Kompasiana, kira-kira begitulah minimal kata dalam post ideal (atau bahkan bare minimum?) ketika membuat Post yang SEO Friendly di websitemu.
Sebagai clue agar kamu tetap memiliki motivasi, kamu boleh mencurahkan apapun isi hati dan pikiranmu melalui blogging. Kritik sosial atau satir sarkas kepada pemerintah? Bebas, kamu yang memiliki platform kamu sendiri. Kamu tidak terpatok dengan Community Guidelines yang menjelma menjadi tangan penguasa, yang bisa membuat kontenmu di take-down saat viral. Di website ketika post kamu banyak yang mengunjungi, “siapapun” tidak bisa berbuat apa-apa karena memblokir situs bukan pekerjaan “penting” bagi penguasa, karena interaksi yang lebih minim dibandingkan dengan kolom komentar di sosial media sehingga dianggap “tidak mengacaukan tertib sosial”. Jadi, apa lagi alasan yang menghambatmu untuk membuat post di sosial media, kalau pembungkaman tidak dikenal di dunia internet ini?
Dinamika Sejarah Kriteria Minimal Kata Post
1. Era Wild West (Awal 2000-an – 2011)
Ini adalah era dimana internet masih sangat liar dan tidak terkendali. Pada masa awal blogging ini, Google belum memiliki algoritma yang sepintar sekarang. Bahkan, Google sendiri belum menjadi standar emas website pengindeks. Masih ada Yahoo yang berkuasa menjadi raksasa mesin pencari pada saat itu, meskipun di era kelahiran internet sudah ada Archie, Lycos, Excite dan AltaVista. Robot pencari saat itu hanya mendeteksi kepadatan kata kunci (keyword density). Maksudnya, semakin sering kamu menyisipkan kata kunci, semakin artikelmu berpotensi naik ke halaman pertama mesin pencari.
Bayangkan di tengah hutan belantara, kamu cukup meneriakkan “disini ada post terbaik!” berulang kali dan robot otomatis mendatangimu karena memang kamu yang paling “dirasakan” kehadirannya. Di era ini, hanya dengan membuat artikel sepanjang 100–200 kata saja sudah bisa merajai halaman pertama Google, asalkan kata kuncinya diulang-ubah secara brutal (teknik ini disebut sebagai Keyword Stuffing). Akibatnya, Internet pada saat itu dipenuhi artikel sampah yang sangat pendek, tidak ada isinya, dan hanya dibuat untuk mengejar klik iklan. Konsep “kriteria minimum kata” belum lahir karena semua orang berlomba menulis sependek dan secepat mungkin, yang penting mudah diketahui robot.
2. Era Revolusi Panda (2011 – 2015)
Bulan Februari 2011 adalah hari kiamat bagi artikel pendek yang masih bertebaran di internet kala itu. Google yang mulai mengalahkan kompetitor legendarisnya yaitu Yahoo, merilis algoritma legendaris bernama Google Panda Update. Tujuan algoritma ini cuma satu, yaitu membantai website yang isinya dinilai terlalu tipis (thin content). Google mulai menghargai artikel yang menyediakan informasi yang komprehensif dan holistik. Bagaimana orang-orang (termasuk para Blogger) “memastikannya”? Berdasarkan dari riset para ahli SEO kala itu, ditemukan bahwa artikel yang memiliki struktur jelas dan panjangnya minimal 300 kata cenderung selamat dari tebasan Google Panda. Dengan kata lain untuk menghindari “thin content“, kamu harus membuat sebaliknya (kita sebut saja “thick content“, yang berarti kamu cukup membuat artikel yang cukup panjang.
Sejak saat inilah, angka “300 kata” resmi menjadi mitos dan standar bare minimum di kalangan blogger pemula di seluruh dunia. Jika tulisanmu di bawah itu, robot Google menganggap blogmu malas dan tidak berniat memberi edukasi sehingga rawan diabaikan Google. Di era ini, bayangkan kamu memiliki 1 rumah kecil, tapi alih-alih membuat rumah itu besar supaya di-notice Google, kamu justru memasang tembok tebal berlapis. Di mata Google terlihat besar, tapi sebetulnya tidak substansial. Akibatnya, banyak orang “memaksa” membuat artikel sepanjang mungkin dan bertele-tele meskipun tulisan itu tidak organik dan alami untuk nyaman dibaca oleh mata manusia. Bagaimana dengan post ini? Dunno, you tell me!
3. Era Komprehensif & Konten Pilar (2015 – Sekarang)
Seiring berjalannya waktu, pengguna internet semakin pintar dan kompetisi blog semakin padat. Menulis 300 kata yang sekadar menjawab permukaan masalah sudah tidak cukup lagi untuk memenangkan persaingan. Berbagai studi dari lembaga besar seperti Backlinko dan HubSpot menemukan bahwa artikel yang nangkring di halaman pertama Google rata-rata memiliki panjang berkisar antara 1.000 hingga 2.000 kata. Mengapa Angkanya Naik? Bukan karena Google menyukai tulisan yang bertele-tele, melainkan karena artikel yang panjang biasanya mengupas masalah secara tuntas dari segala sudut (disebut In-depth Content atau Pillar Content). Namun, untuk tingkat kesulitan blog kasual dan personal, angka 600 kata bergeser menjadi standar baru yang dianggap “sehat”—cukup panjang untuk memberi konteks pada Google, tapi cukup pendek agar pembaca manusia tidak pingsan karena kelelahan. Di era ini, 300 kata mulai tidak relevan lagi.
Tips Membuat Artikel Post Minimal 600 Kata
Di post sebelumnya, kita sudah membahas cukup mendalam terkait bagaimana cara membuat post pertamamu. Di situ kamu juga secara tidak langsung akan menemukan beberapa tips supaya postmu tetap berkualitas.
1. Manfaatkan Heading
Manfaatkan dengan baik HEADING! Heading itu seperti subjudul dari artikelmu untuk menavigasi pembaca saat menikmati kontenmu. Alih-alih membuat satu artikel panjang, kamu bisa pecah menjadi beberapa bagian seperti definisi, fungsi, sejarah, tata cara, dan lain sebagainya tergantung konteks dari topikmu. Bagi kamu yang biasa melihat karya ilmiah, kamu bisa menggunakan teknik yang sama seperti ketika menyusun tinjauan pustaka/kajian pustaka/tinjauan teori dimana suatu topik dikupas menjadi beberapa variabel. Untuk memahami teknik Heading secara komprehensif dan SEO Friendly, kamu bisa baca disini
2. Ikuti Pedoman Penulisan ala Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Yuk coba kita ingat-ingat. Di masa sekolah dulu, guru pasti pernah membahas bagaimana cara menulis kalimat dan paragraf yang baik. Mau tidak mau, suka tidak suka walaupun membosankan, ketahuilah bahwa itu adalah pedoman paling komprehensif yang bisa kita terapkan saat menulis blog. Satu kalimat berisi Subjek, Objek, Predikat dan Keterangan (S-P-O-K) adalah rumus emas yang harus senantiasa kita ingat bersama. Tulisan setidaknya berisi 4 paragraf, dimana 1 paragraf berisi 3 kalimat panjang atau 6 kalimat biasa. Sebagai gambaran, paragraf yang sehat menurut saya itu bukan hanya mengandung ide pokok, melainkan kita menulis secara alamiah tanpa mencoba untuk bertele-tele atau memanjangkan kata. Dan masih banyak lagi panduan menulis ala bocil sekolahan dulu yang ternyata sangat terpakai setelah belasan tahun kita melupakannya hanya demi nilai tinggi yang relatif mudah kita raih saat menempuh mata pelajaran Bahasa Indonesia ini dulu!
3. Menulis seperti Bercerita, Bertutur atau Berkata
Bagaimana rahasianya agar tulisanmu terbaca dengan natural? Sederhana sekali: Anggap kamu sedang ngomong langsung dengan lawan bicaramu! Bayangkan layar laptop adalah orang yang kamu ajak ngomong. Kamu mau menambah basa-basi, guyonan, satir sarkas? Bebas! Itu bukan cara untuk membuat tulisanmu bertele-tele. Sebaliknya, itu teknik yang membuat tulisanmu semakin interaktif. Di dunia nyata, bertele-tele hanya seringkali kita gunakan saat kita ingin berusaha menunjukkan kalau diri kita itu pintar (tentu beda definisi dengan berkelit untuk mengulur waktu, ya!). Bayangkan saat kita sedang menjawab pertanyaan dari guru/dosen. Atau mencoba berputar-putar saat ada di ruang ujian Tugas Akhir karena kita tidak benar-benar bisa memahami pertanyaan atau tidak menguasai jawaban dosen killer. Atau bertele-tele agar tampak pintar di mata gebetan kita dengan memanjang-manjangkan kata, menambah kosa kata yang tidak perlu atau padanan kata keren.
Lupakan teknik-teknik bertele-tele seperti itu saat kita menulis! Ketika kamu menulis blog, audiensmu belum tentu professor atau bos di kantormu yang suka menyimak kamu sedang ngomong ngelantur (bahasa Jawanya: ngedabrus/ngomong coro). Alih-alih membuat tulisanmu panjang seperti itu, bayangkan saja kamu sedang mengajak ngobrol bapak-bapak di pos ronda. Mulai dari basa-basi paling basi seperti cuaca “lagi hujan ya, Pak?” yang tidak terlalu penting dibahas karena toh beliau juga bisa lihat rintik hujan di depan mata. Mencari topik yang paling relevan bagi audiensmu tak ubahnya menebak apakah kepala pak satpam itu mungkin memahami apa yang akan terlontar dari mulut kita. Apakah kemungkinan akan paham atau justru garuk-garuk kepala? Jika sudah pas, barulah diskusi mengalir diselingi tawa, senda gurau, atau makan gorengan dan nyeruput kopi yang mulai dingin. Intinya jika ingin tulisanmu panjang tapi tetap natural, usahakan kamu menulis sembari ngomong di hatimu seperti scene monolog/self-talk di sinetron-sinetron kesayangan ibu-ibu. Biarkan mengalir, ditangkap oleh pikiranmu, dieksekusi oleh jari-jemari emasmu.
Jadi, sebetulnya sejarah membuktikan bahwa Google sendiri tidak pernah memiliki kalkulator di dalam sistemnya untuk menghitung jumlah kata secara kaku. Google ataupun mesin pencari manapun tidak pernah membuat kriteria baku atau strict minimal kata yang baik yang harus ada di suatu post. Angka 300 atau 600 pada dasarnya kata hanyalah ‘kompromi logis’ agar kita terbiasa menyajikan informasi yang utuh, berbobot, dan tidak terkesan malas bagi manusia yang membacanya. Dan kamu perlu bangga jika terdaftar sebagai website di dalam ekosistem Website Gratis Selamanya dari situse.org, di dashboard WordPress kamu sudah terpampang tools yang bisa langsung membuatmu menulis, lengkap dengan kalkulator kata, fitur yang tersembunyi jika kamu menggunakan Gutenberg (Editor milik WordPress). Sehingga, kamu bisa merasakan sensasi blogging layaknya menulis status atau tweet di beranda sosial media kamu, bukan kaku seperti ketika kamu mengembangkan website.
Halo para Blogger dan Webmaster