Migrasi dari Sosmed? Ini Tips Membuat Post Pertama

Apa sosial media favoritmu? Quora atau Kaskus? Mantap jiwa, kamu siap bersosial melalui Websitemu. Kalau Facebook apalagi X/Twitter? Kamu harus siap-siap menyesuaikan diri, bahwa Website atau Blog bukan sosial media murni, tempat interaksi lebih cair bagaikan sosial media yang lainnya, terutama saat kamu membuat post pertama. Apalagi kalau kamu terbiasa dengan Instagram, TikTok atau Tumbler dan Pinterest, Webblog sama sekali bukan sarana untuk berbagi multimedia macam gambar atau video, walaupun dimungkinkan.

Sebagai orang yang biasa bersosial media ria, akan ada banyak sekali penyesuaian yang harus kita lakukan sebelum memasuki dunia per-website-an. Sosial media murni yang berbasis interaksi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, itu bagaikan pasar malam. Kamu bisa buka lapak disitu dan menawarkan ke orang-orang di sekelilingmu dengan modal awal koneksi ke teman-temanmu. Kalau kamu tidak berjualan apa-apa? Kamu tinggal lihat-lihat lapak orang lain karena kamu hampir pasti sudah memiliki jaringan interaksi dengan orang-orang terdekatmu yang juga bermain sosmed.

Di dunia website? Hal itu sangat kontras. Sebaliknya, disini kamu benar-benar sendiri. Bukan bermaksud menjatuhkan motivasimu untuk blogging. Tapi realitanya, kamu benar-benar sendiri dari awal. Teman-temanmu belum tentu memiliki hobi menulis atau ketertarikan untuk blogging sama sepertimu. Kalaupun kamu promosikan kepada mereka, mereka belum tentu tertarik mengunjungi website barumu setiap hari. Disini karena perbedaan kebiasaan, kultur dan konsep interaksi, kamu ibarat baru saja mendaratkan lapakmu di lapangan yang sangat luas tapi juga, sangat sepi…

Lantas, bagaimana cara mengubah lapangan luas yang sepi itu menjadi sangat ramai? Konten post tulisan artikelmu adalah jalan satu-satunya dan mutlak untuk mengubah kondisi itu. Menulis konten bermutu (bukan cuitan atau status singkat), konsisten membuat artikel, melakukan kustomisasi visual supaya menarik, hingga melakukan optimasi website di sana-sini merupakan PR besar yang harus kamu lakukan di tengah algoritma Google yang berat ini. Ibarat kamu harus membuat aspal sendiri dari pusat keramaian ke lapakmu supaya orang tahu bahwa kamu memiliki konten bermutu. Atau menjadikan websitemu kendaraan kelas berat untuk mengantar post-postmu ke tempat dimana orang-orang berkumpul.

Kalau Kamu Masih Membaca di Titik Ini, Selamat! Kamu Sudah Mendapat Gambaran Kriteria Minimum Membuat Post Pertama

Lho, lho, lho…~~~ Kok begitu? Contoh tulisan di awal tadi merupakan bare minimum kamu membuat post di artikel kamu. Apapun gaya menulismu: Storytelling yang mengalir, curhat random yang meledak-ledak, tutorial, penjelasan ilmiah, dan lain sebagainya. Pastikan kamu mengawali tulisanmu dengan pendahuluan seperti itu. Kalau kamu bukan tipe pencerita dan lebih suka memberi tutorial langsung to the point berbentuk poin-poin singkat, usahakan sebisa mungkin tetap mulai dengan 1 atau 2 paragraf yang mendeskripsikan apa yang mau kamu bagikan. Karena sharing is caring, tapi supaya yang kamu bagikan sampai pada audiensmu, kamu perlu menyusun paragraf seperti itu agar mudah muncul di mesin pencari.

Mengapa demikian? Karena mesin pencari seperti Google, perlu menemukan konteks terlebih dahulu sebelum masuk ke pembahasan inti. Misalnya alih-alih langsung masuk ke tutorial apa saja yang perlu kamu lakukan pada saat servis sepeda motor, kamu perlu memberi konteks dengan menjelaskan bahwa sepeda motor itu perlu diservis berkala. Lebih baik lagi jika kamu memberi sentuhan organik/alami dengan menceritakan pengalamanmu yang dulu pernah lupa servis hingga membuat sepeda motormu mogok, atau diselingi guyonan teteh-teteh yang lebih suka beli seblak daripada ganti oli karena dianggap cuma gimmick marketing.

Tips Sehat Membuat Post Pertama

Lantas, apa saja kriteria untuk membuat post pertamamu? Berikut 10 tips untuk membuat post yang sehat, bermutu, bagus dan berkualitas:

  1. Pastikan kamu sudah memahami teknik Heading, kamu bisa baca disini
  2. Tulisan deskriptif atau poin-poin seperti ini, wajib hukumnya kamu pastikan merupakan Text, bukan Heading
  3. Untuk post pertama, usahakan menyentuh 300 kata secara total
  4. Idealnya, suatu post berisi 600 kata sebagai minimal kata untuk membuat post (kamu bisa baca disini). Kalau memang berat di awal, kamu bisa training dirimu perlahan. Post pertama boleh 300 kata sebagai starter point. Post selanjutnya naikkan menjadi 350 kata, begitu seterusnya. Kalau kamu sudah bisa menyentuh 600 kata, pertahankan! Sesekali, kamu bisa push dirimu untuk membuat konten pilar (pillar content) berjumlah 1000 kata
  5. Maksimal 2000 kata dalam satu post. Lebih dari itu, kamu wajib memecahnya menjadi 2 post atau lebih. Mengapa begitu? Karena pembaca pasti kelelahan membaca postmu jika lebih dari 2000 kata. Sebagai gambaran, makalah tugas dengan 2000 kata itu sudah 8 halaman jika kamu taruh di Microsoft Word. Bayangkan kamu membaca dokumen hampir 10 halaman dalam 1 waktu, matamu pasti lelah
  6. Jika berbentuk paragraf, terdiri dari 3 kalimat panjang sampai 6 kalimat biasa. Lebih dari itu, potong ke kalimat berikutnya. Ingat materi pelajaran Bahasa Indonesia yang kita pelajari saat sekolah dulu: satu paragraf, satu ide pokok! Jangan campur-campur acakadut
  7. Kamu bisa menggunakan teknik jembatan atau bucket brigades, dimana di setiap akhir atau awal paragraf, kamu menyisipkan kalimat yang menstimulasi mereka untuk terus membaca. Kamu sudah pernah melihat contohnya di bagian sebelum poin-poin ini
  8. Setidaknya ada 4 paragraf besar dalam 1 post. Buat artikel seperti seolah-olah kamu berbicara langsung dengan mereka meskipun kamu menulis, tulisanmu tetap harus mengalir. Atau jika berbentuk tutorial, diawali dengan 2 paragraf dan dilanjutkan dengan poin-poin
  9. Ingin lebih panjang lagi? Jabarkan poin-poin itu dengan teknik Heading, usahakan bukan poin singkat
  10. Jika mencatut merek, tulis persis seperti merek mereka hingga huruf kapitalnya. Contohnya: WordPress (agar tidak memberatkan server)

Menulis Artikel Post Website untuk Dibaca Manusia, bukan Disukai Robot

Itulah 10 pro tip untuk kamu yang mau membuat tulisan di artikel website atau blog kamu. Ingat! Membangun website itu maraton, bukan sprint. Kamu tidak harus membuat banyak post dalam 1 hari lalu post. Baiknya untuk menghemat energi, buatlah post setiap 2 hari sekali. 1 hari pikirkan idemu, 1 hari eksekusi. Kalau kamu orangnya sistematis, manfaatkan fitur simpan sebagai draft karena post yang kamu buat tidak harus langsung kamu publikasikan, bisa kamu pending untuk kamu review sebelum benar-benar dipublish. Kalaupun sudah tayang, artikelmu masih bisa direvisi, kok!

Jadi intinya membangun website itu perlu konsistensi dan rajin dalam tingkatan yang tinggi. Mangkanya di titik ini, banyak orang yang tidak bertahan, menjadikan website itu tidak seramai sosial media lapaknya. Tapi bagi kamu yang memang hobi menulis dan membaca, kamu tidak akan merasa terpaksa melakukannya. Sebaliknya, kamu akan menjadikan blogging sebagai hobi di kala senggang. Waktu luangmu diisi dengan agenda yang bermanfaat alih-alih sekadar scrolling di sosial media yang bisa membuat otakmu menjadi tumpul. Ingat nasehat ibu: “hape terooos!”

Best partnya, di platform Website Gratis Selamanya dari situse.org ini, kamu benar-benar bisa mengisi momen kosong dalam hidupmu dengan membaca dan menulis, seperti yang sudah dibahas di post Memanfaatkan Website Gratis Selamanya ini. Kamu bisa mencari inspirasi dengan membaca blog milik pengguna lain di ekosistem menulis sehat situse.org, dan bisa berbagi inspirasi dengan orang lain. Dan satu yang ingin kuwanti-wanti, jangan jadikan algoritma mesin pencari sebagai tujuan, karena itu sebetulnya hanyalah alat! Menulislah untuk manusia, bukan untuk robot karena dengan membuat tulisan sehat dan bermutu seperti itulah, algoritma mesin niscaya akan mengikut.

Post ini misalnya, meski pada saat tulisan ini dibuat masih sepi bak lapangan luas tak terpakai, tapi kalau sampai kamu baca menunjukkan bahwa tulisan ini sampai padamu, yang berarti nasehat itu works! Saya menulis memang untuk berbagi, bukan terpaksa demi motivasi diindeks oleh crawler, bagi saya itu hanya bonus. Anugrah bagi saya adalah ketika memiliki kesempatan untuk berbagi dengan membuat post seperti ini bagi kamu yang pemula, karena saya pun pernah ada di posisi itu dan bedanya, dulu tidak ada yang menyadarkan kalau menulis itu harus mengalir seperti ini. Teman-teman blogger angkatan saya berlomba mulai menggunakan teknik Gray Hat saat algoritma Google tidak lagi ramah bagi blogger indie. Jadi, jangan korbankan estetika tulisan, gaya puitismu atau kata-kata membumimu demi algoritma mesin pencari, karena bukan mereka yang menikmati kontenmu.

Halo para Blogger Newbie

Mau belajar banyak seputar membangun website dari N-0-L untuk pemula?

Leave a Comment